Suatu hari saya pergi ke rumah seorang teman di daerah Sulfat, Malang. Seperti biasa saya masuk, duduk, dan saling bercerita. Lama... lama... dan lama... Semua terdengar biasa saja sampai dia menceritakan kecelakaannya dua hari yang lalu. Dia bilang, saat itu dia telah dengan sukses menabrak sebuah gerobak bakpau yang sedang berjualan.
"Praaakk....!", hancurlah si gerobak. Tambahnya lagi, tabrakan itu sampai-sampai membuat roda gerobak bengkok, bakpau berceceran, etalase pecah, dan tukang bakpau berguling-guling ria di tepi jalan. Sial lagi bagi dia, tabrakan terjadi jam tujuh pagi saat dia berangkat sekolah. So, bakpau yang dijual juga masih penuh, alias full stock.
Singkat cerita, menggantilah dia dengan uang sekitar satu juta lebih. Memang, untuk orang kaya seperti dia hal itu bukan masalah yang besar, tapi malunya itu yang masalah. Bayangkan ketika nanti seseorang bertanya "lho, kamu kenapa?", jawabannya "habis nabrak tukang bakpau". Tentu saja itu bukanlah hal yang keren. Tambah lagi dia langsung dibawa orang tuanya pijat di daerah Tumpang--masih daerah Malang--, lalu antri di kerumunan orang-orang tua yang juga ingin pijat.
"Ya Tuhan.... Dosa apa teman hamba ini."
Saya bertanya kepadanya, sebut saja Bunga (cowok).
"lho, kok kamu bisa nabrak, Bung?"
"Tau nih, tiba-tiba jadi seperti itu, sepertinya saya lagi kurang fokus."
Begitu katanya.
Nah, itu baru yang pertama.
Dua hari berikutnya, giliran saya yang mengalami kejadian konyol. Saat perjalanan ke rumahnya (lagi), entah sedang melamun atau apa, secara tidak sengaja saya telah menabrak sebuah motor merk Yama(tiitt) di dekat sebuah perempatan, dan dilanjutkan motor merk Hon(tiitt) beberapa kilometer kumudian. Sangat aneh, mengingat jarak yang saya tempuh saat perjalanan itu tidak lebih dari 30 menit.
Saya menceritakan kejadian yang baru saya alami kepada ibu Bunga. Beliau mendengarkan, lalu mulai menasihati kami berdua.
"Le... Kalian itu kalo di jalan itu mbok ya konsentrasi to." begitu katanya dengan logat jawa yang kental.
"Ibuk itu yakin kalo kalian itu nabrak bukan gara-gara ngantuk."
"Apa sih susahnya konsentrasi."
"Kalo kalian sedang melakukan sesuatu, ya pikirkan saja tentang apa yang kalian lakukan itu, di tempat itu, dan saat itu. Jangan memikirkan yang lain dulu."
Ya, memang orang tua temanku yang satu ini sedikit terlalu care untuk remaja seusia kami. Tapi, setelah dipikir-pikir, bagus juga kata-katanya tadi.
Tapi dari kejadian ini, ada satu hal yang bisa saya ambil hikmah.
Intinya, "jika saya sedang di sini, maka di sinilah pikiran dan tenaga saya harus dipusatkan."
Simpelnya, begitulah konsentrasi. Untuk yang belum tahu apa konsentrasi itu. Sini, saya beritahu.
Konsentrasi....
Kon = Koen = Kamu
Sent = Mengirim
Trasi = Terasi
Konsentrasi = ???
No comments:
Post a Comment