Persiapan beres, perbekalan lengkap, dan kami siap untuk berangkat. Tinggal mental yang harus saya siapkan, karena malam ini bukan cuma teman-teman biasanya yang akan bergabung. Ya, seperti yang sudah direncanakan dua minggu sebelumnya, masing-masing dari kami berempat akan mengajak seorang cewek. Dan cewek tidak beruntung yang saya ajak saat itu adalah Si "Delapan Dua-dua Per Tujuh", teman saya. Sori sensor.
Minggu, 8 September 2013, tepat pukul 00.00 WIB. Kami berempat mulai bergerak. Setelah menjemput cewek masing-masing, sesuai rencana kami berkumpul di satu spot yang telah ditentukan, gerbang depan Politeknik Negeri Malang. Dengan tunggangan dua matic dan dua bebek yang notabennya (masih) tangguh, kami berangkat menuju pom bensin terjauh sebelum masuk ke Pasuruan. Dan tanpa membutuhkan waktu yang lama, sampailah kami di SPBU wilayah Kecamatan Lawang. Di sini, kami akan mengisi full bahan bakar motor kami untuk modal perjalanan naik-turun kawasan Bromo. Kawasan yang kemungkinan besar jarang sekali kita jumpai penjual bensin eceran. Tangki bahan bakar saya sudah kembali full dalam sekejap, dari keadaan sebelumnya yang memang sudah full. Maklum lah, saking semangatnya saya lupa kalau sudah mempersiapkan semua lebih awal, termasuk bahan bakar. Jadi saat itu saya hanya perlu mengisinya sebanyak dua ribu rupiah saja. Rekor baru pembelian bensin termurah, untuk diri saya sendiri.
Perjalanan kami lanjutkan ke arah Pasuruan. Setelah melewati gedung megah bertuliskan “Mayora” dan “Pocari Sweat”, rombongan kami terus bergerak lurus memasuki jalan raya sebelum akhirnya belok kanan di perempatan Polresta Pasuruan. Dari sini, saya benar-benar buta arah. Untungnya saja kami hanya perlu mengikuti barisan kecil motor di depan kami, yang (sepertinya) memiliki destinasi yang sama. Kawasan Tengger, setidaknya itulah yang saya ketahui setelah membaca plang bertuliskan “selamat datang” di depan saya. Jalanan terasa mulai menanjak, frekuensi belokan pun meningkat. Lumayan extreme memang, bahkan sempat memaksa kaki saya turun beberapa kali untuk menyeimbangkan laju motor agar tidak slip. Kami sadar, inilah tantangan pertama kami. Melewati tikungan-tikungan tajam sembari memacu motor di atas permukaan aspal yang semakin lama semakin curam.
Entah berapa jam yang telah kami habiskan untuk sampai di pos perijinan. Kami berkumpul dan beristirahat di dekat gapura, sementara Si “Terjatuh” masuk ke dalam pos untuk mengurus ijin masuk. Di tempat inilah, setiap pengunjung domestik dengan motor harus berhenti dan membayar retribusi sebesar Rp. 25.000,- untuk masuk ke wilayah Bromo. Yah, cukup mahal juga ternyata, tapi mau bagaimana lagi. Semoga saja retribusi ini benar-benar digunakan dengan semestinya.
Kami kembali mamacu motor untuk mengejar sun rise. Dari pos tadi, kami masih harus ke sebuah pendopo yang telah disediakan khusus untuk mamanjakan mata pengunjungnya. Entah tempat apa itu namanya. Kami berdelapan berjalan menyusuri tangga untuk mencari view yang pas, setelah sebelumnya memarkirkan motor-motor kami yang sudah ngos-ngosan. Masih pukul 03.00 WIB, dan udara terasa sangat-sangat dingin. Saking dinginnya, sampai-sampai jaket dan kupluk yang kami gunakan serasa tidak ada. Kami mencari tempat duduk untuk ngobrol dan memejamkan mata sejenak, lalu menyeduh segelas pop mie. Sedikit, tapi terasa nikmat sekali. Paling tidak lumayan lah untuk menemani kami menunggu sun rise yang masih lama muncul. Saat itu suasana terasa sangat akrab. Kami bercanda seperti anak TK, mengoceh seperti burung beo, dan kadang tak sengaja juga ketiduran seperti kebo.
Setelah menunggu lama, akhirnya sun rise yang ditunggu semua orang pun muncul. Diawali dengan munculnya garis-garis jingga yang tidak begitu jelas, perlahan matahari pagi mulai terangkat. Sial, hari itu kurang menguntungkan. Sun rise bulat yang ditunggu-tunggu ternyata tidak terjadi. Ada sedikit gumpalan awan tipis yang ternyata menutupi jalur terbitnya matahari. Tapi sepertinya itu sudah cukup. Semua orang tetap antusias mengabadikan momen itu dengan kamera digital dan gadget-gadget mereka yang canggih. Lalu bagaimana dengan kami? Saat semua sibuk memotret sun rise, delapan orang aneh ini justru sibuk mengabadikan wajahnya sendiri. Pose ini, pose itu, pindah ke sini, pindah ke situ, sampai semua lokasi di pendopo itu habis masuk ke kamera.
Puas di bagian atas, kami memacu motor kembali, menuruni tikungan-tikungan tajam menuju lautan pasir di lembah Bromo. Tidak begitu jauh. Kurang lebih lima belas menit, empat motor ngos-ngosan ini telah menapakkan jejak rodanya di atas pasir tandus lembah Bromo. Saya sedikit kaget ketika sampai bawah. Banyak yang berubah. Lautan pasir yang padat, nyaman, dan mudah dilewati seperti beberapa minggu yang lalu, kini berubah 180 derajat menjadi dataran yang gersang, berdebu, dan memberikan tantangan luar biasa pada motor-motor kami. Saya baru ingat kalau musim ini musim panas. Tidak ada setetes airpun yang membasahi permukaan pasir itu, apalagi memadatkannya. Awalnya kami ragu untuk melewati medan pasir yang membentang di depan kami. Bayangkan saja, sedikit setir dibelokkan, maka pasir-pasir di bawah roda akan langsung amblas dan menggoyangkan seluruh badan motor. Tapi sudah tidak ada jalan lain. Tidak mungkin kami kembali ke atas menaiki tanjakan aspal super miring yang barusan kami turuni. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, kamipun harus menempuh medan extreme ini, lautan pasir bromo yang sesungguhnya.
Kami berjibaku mati-matian agar motor kami tidak goyang. Sungguh, inilah medan terberat yang pernah saya lalui dengan motor. Dan lebih berat lagi, mengingat apa yang ada di belakang kami, atau tepatnya siapa. Beberapa kali di antara kami ada yang sempat oleng, bahkan nyaris nyungsep. Pada beberapa kesempatan, kami sempat memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur nafas yang ngos-ngosan, sembari mengabadikan satu atau dua foto. Kami ngobrol sejenak, membicarakan planing untuk perjalanan pulang termudah. Kamudian, dengan pertimbangan yang (sepertinya) matang, salah satu dari kami mengusulkan agar tidak kembali ke Malang melewati jalur Tumpang. Terlalu berat. Terlalu berbahaya pula untuk dilalui oleh orang yang staminanya sudah hancur seperti kami. Kami sepakat dengan usulan itu. Setelah dirasa cukup, semua naik kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan. Telah diputuskan, bahwa setelah melalui hadangan pasir yang luas ini, kita akan kembali ke Malang lewat jalur Probolinggo, yang di atas kertas jauh lebih panjang daripada jalur Tumpang.
Sunday, 15 September 2013
Monday, 9 September 2013
Ada yang Lebih Keras
Mulai dari kehabisan uang, sampai boring berdiam di kamar.
Harus bersih-bersih tempat tidur, atau bahkan bingung ingin melakukan apa saat
sedang nganggur. Saya tidak tahu apakah kalian yang saat ini dekat dengan orang
tua merasakannya.
Memang benar, ada banyak hal yang kadang kurang menyenangkan
saat kita berada jauh dari rumah. Tapi apa kita pernah berpikir bagaimana
keadaan orang-orang di rumah yang kita tinggalkan? Kita bangun pagi, lalu
mengeluh hanya karena antre mandi di depan kamar mandi kost. Sementara adik dan
kakak kita di rumah? Mereka bisa saja sedang menimba air, tarikan demi tarikan,
dan mengumpulkannya di tong besar untuk makan dan minum mereka sampai esok
hari.
Kita berangkat ke sekolah, mengeluh hanya karena jalan yang
macet, panas, dan berdebu. Di sisi lain, ayah kita sedang berjalan jauh ke
sawah, beratus-ratus meter, lalu mencangkul dan bercocok tanam dengan ikhlas
dan keringat yang bercucuran. Semua demi mewujudkan keinginan dirinya dan
istrinya agar kita bisa berangkat ke sekolah naik motor pribadi serta dengan
wajah yang cerah.
Kita mencacah-cacah makanan kita di atas piring, mungkin
karena lauk yang kurang pas. Tapi pernahkah kita berpikir, “Ayah, Ibu, sudahkah
kalian makan malam ini?”.
Lalu apa kita pantas, berpikir bahwa diri kita sedang
berjuang keras menyelesaikan sekolah? Bukankah mereka, orang tua, dan mungkin
adik serta kakak kita , yang saat ini sedang di rumah berusaha mati-matian
untuk berhemat, agar kiriman uang selalu datang ke kita tepat waktu. Adik kita
mulai belajar berhenti membeli ice cream. Kakak yang mulai belajar mencari uang
sendiri. Ibu yang sudah keriput, yang sering gosong ketika memasak karena
pengelihatannya yang sudah tak bagus. Dan ayah, orang yang tidak pernah sadar
bahwa punggungnya sudah membusur kaku dimakan usia, hingga tak mampu berjalan
tegak dan mengangkat cangkulnya.
Saya tidak berbicara kepada kalian yang saat ini kebetulan berkecukupan, tapi saya bicara kepada kalian yang merasa bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan. Entah apa pengorbanan keluarga pantas didapatkan oleh anak-anak macam kita. Mungkin sekaranglah saatnya kita berhenti berpikir bahwa "hidup ini keras". Kita layaknya sadar, bahwa ternyata masih ada hidup lain yang jauh lebih keras. Semuanya tepat di belakang kita.
Saya tidak berbicara kepada kalian yang saat ini kebetulan berkecukupan, tapi saya bicara kepada kalian yang merasa bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan. Entah apa pengorbanan keluarga pantas didapatkan oleh anak-anak macam kita. Mungkin sekaranglah saatnya kita berhenti berpikir bahwa "hidup ini keras". Kita layaknya sadar, bahwa ternyata masih ada hidup lain yang jauh lebih keras. Semuanya tepat di belakang kita.
Sunday, 1 September 2013
Untuk Apa Belajar?
Sekarang saya sudah bukan anak SD lagi. Saya mahasiswa, semester V pula. Tapi anehnya saya justru baru sadar tentang suatu hal yang sangat sepele. Bisa dibilang pertanyaan umum yang biasa ditanyakan guru taman kanak-kanak kepada anak didiknya.
"Untuk apa sih kalian itu belajar?"
Dulu saya biasa mendengar pertanyaan ini dari si "Pria Tenang", teman saya semasa SMA. Dia bilang ini pertanyaan dari Kyai-nya, dan dia bingung bagaimana mau menjawabnya. Saking bingungnya, sampai-sampai dia bertanya kepada beberapa guru di sekolah kami. Saya jadi heran.
Bukannya saya memandang rendah pertanyaan teman saya, tapi semua orang tahu kan kalau kita itu belajar supaya pintar? So, kenapa mesti bingung?
Setidaknya itulah jawaban yang saya punya. Tapi itu dulu, sampai saya mulai berpikir (menyimpang) seperti saat ini. Secara tidak sadar, pertanyaan itu muncul lagi di dalam kepala saya. Ya, di usia yang (seharusnya) produktif ini, saya malah merasa bingung mencari alasan kenapa kita harus belajar. Mungkin ini yang namanya galau dalam kamus saya. Seringkali saya bertanya, tapi tetap saja belum menemukan jawaban yang pas. Semuanya hanya jawaban-jawaban teoritis yang tertata sangat rapi, yang lebih cocok menjadi jawaban ujian di mata kuliah kependidikan saya.
Bukannya saya memandang rendah pertanyaan teman saya, tapi semua orang tahu kan kalau kita itu belajar supaya pintar? So, kenapa mesti bingung?
Setidaknya itulah jawaban yang saya punya. Tapi itu dulu, sampai saya mulai berpikir (menyimpang) seperti saat ini. Secara tidak sadar, pertanyaan itu muncul lagi di dalam kepala saya. Ya, di usia yang (seharusnya) produktif ini, saya malah merasa bingung mencari alasan kenapa kita harus belajar. Mungkin ini yang namanya galau dalam kamus saya. Seringkali saya bertanya, tapi tetap saja belum menemukan jawaban yang pas. Semuanya hanya jawaban-jawaban teoritis yang tertata sangat rapi, yang lebih cocok menjadi jawaban ujian di mata kuliah kependidikan saya.
Wednesday, 28 August 2013
Tour Guide: Kalimantan Selatan
Halo. Sepertinya lama juga saya berhenti menulis. Maklum, mahasiswa. Sedikit-sedikit tugas, sedikit-sedikit tugas. Saking banyaknya sampai-sampai mau cukur kumis saja tidak sempat (#uups). Hehehe
Oke, mulai saat ini mungkin saya akan sedikit menulis kembali. Itung-itung untuk mengisi waktu juga sepanjang masa liburan semester genap. Untuk mengawalinya, saya akan membagi pengalaman perjalanan saya dulu dari Malang, Jawa Timur, ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebenarnya ini bukan perjalanan pertama saya, dan semoga saja juga bukan yang terakhir. Hehehe
Oke, mari kita mulai.
Langkah 1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan rencana keberangkatan. Karena kebetulan saya selalu naik pesawat, maka saya harus terlebih dulu memesan tiket pesawat jauh-jauh hari sebelumnya. Di mana? Nah, untuk masalah ini saya lebih memilih pemesanan melalui agen penerbangan (online). Sedikit tips untuk melakukan pemesanan. Jangan langsung membeli tiket yang menurut anda mahal. Kontrol harga tiket tersebut setiap hari, karena harganya selalu fluktuatif (naik turun). Jika dirasa harga sudah cocok, baru lakukan transaksi.
Langkah 2. Berikutnya adalah pergi ke bandara, Juanda International Airport tepatnya. Kenapa harus repot-repot ke Juanda? Ya, di Malang sendiri memang ada sebenarnya, Bandara Abdurrahman Saleh, tapi saya belum memastikan apakah pesawat yang saya tumpangi serta kota destinasi saya ada dalam daftar penerbangan. Untuk itu, saya memesan tiket travel tujuan Juanda 2 hari sebelum keberangkatan (biar aman). Tidak perlu repot-repot. Di Malang sendiri sudah sangat gampang dijumpai agen-agen travel, tapi saya lebih memilih Cipaganti. Menurut saya mobilnya lebih besar dan nyaman, meskipun sedikit mahal. Saat itu kira-kira Rp. 80.000,-. Perhatikan jadwal penerbangan anda. Pilih jadwal travel yang berangkat paling lambat 2 jam sebelum jadwal check in yang tertera pada tiket pesawat anda.
Langkah 3. Setelah sampai di Juanda, anda akan berhenti di gedung “Keberangkatan Domestik”. Menujulah ke papan pengumuman elektronik. Lihat nama pesawat anda beserta statusnya. Jika telah tiba waktu check in, segeralah masuk ke gedung dengan menyiapkan tiket beserta tanda pengenal anda. Setelah memasuki gedung, anda akan melewati pintu pemeriksaan. Masukkan tas beserta barang-barang anda yang lain ke dalam X-Ray Scanner dan berjalanlah melewati pintu detector. Setelah itu, ambil barang-barang anda kembali. Sekedar saran, sebaiknya masukkan dompet dan handphone anda ke dalam tas.
Langkah 4. Cari meja check in dengan layar yang menampilkan kota destinasi, nama pesawat, beserta nomor penerbangan anda. Langsunglah menuju meja tersebut dan jangan mampir ke meja-meja lain di sekitarnya. Biasanya di sekitar anda akan ada meja-meja dan petugas-petugas yang menawarkan penyegelan tas dengan membayar tariff tertentu. Saran saya, tinggalkan saja dan jangan mau jika ditawari. Cukup menuju meja check in saja. Di meja ini, anda akan melakukan registrasi dengan membayar uang sebesar Rp. 40.000,-. Jika barang bawaan anda sedikit, anda diijinkan untuk membawanya masuk pesawat. Jika banyak, anda harus memasukkannya ke dalam bagasi. Satu hal lagi yang perlu anda tahu. Jika barang anda yang akan dimasukkan bagasi memiliki berat lebih dari 20 kg, maka anda akan dikenakan biaya tambahan di luar biaya registrasi tadi.
Langkah 5. Ok. Kita anggap check in selesai. Sekarang menolehlah ke kanan. Di sana ada tangga menuju lantai 2. Naiklah melewati tangga tersebut menuju ruangan dengan nomor yang tertera pada tiket baru yang anda peroleh dari meja check in. Sekarang anda menuju ruang tunggu. Sebelum memasuki ruang ini, anda akan menjalani pemeriksaan seperti yang telah anda alami di pinti masuk gedung tadi. Setelah itu, duduklah di ruangan tersebut dan tunggu giliran penerbangan anda. Petugas akan memanggil jika waktunya telah tiba. Satu lagi. Sempatkanlah ke kamar kecil jika anda akan masuk ke ruang tunggu, karena akan repot jika anda harus keluar ruangan dan melakukan pemeriksaan kembali.
Yap. Kira-kira itulah tips yang bisa saya berikan untuk membantu perjalanan teman-teman. Semoga bermanfaat.
Oke, mulai saat ini mungkin saya akan sedikit menulis kembali. Itung-itung untuk mengisi waktu juga sepanjang masa liburan semester genap. Untuk mengawalinya, saya akan membagi pengalaman perjalanan saya dulu dari Malang, Jawa Timur, ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebenarnya ini bukan perjalanan pertama saya, dan semoga saja juga bukan yang terakhir. Hehehe
Oke, mari kita mulai.
Langkah 1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan rencana keberangkatan. Karena kebetulan saya selalu naik pesawat, maka saya harus terlebih dulu memesan tiket pesawat jauh-jauh hari sebelumnya. Di mana? Nah, untuk masalah ini saya lebih memilih pemesanan melalui agen penerbangan (online). Sedikit tips untuk melakukan pemesanan. Jangan langsung membeli tiket yang menurut anda mahal. Kontrol harga tiket tersebut setiap hari, karena harganya selalu fluktuatif (naik turun). Jika dirasa harga sudah cocok, baru lakukan transaksi.
Langkah 2. Berikutnya adalah pergi ke bandara, Juanda International Airport tepatnya. Kenapa harus repot-repot ke Juanda? Ya, di Malang sendiri memang ada sebenarnya, Bandara Abdurrahman Saleh, tapi saya belum memastikan apakah pesawat yang saya tumpangi serta kota destinasi saya ada dalam daftar penerbangan. Untuk itu, saya memesan tiket travel tujuan Juanda 2 hari sebelum keberangkatan (biar aman). Tidak perlu repot-repot. Di Malang sendiri sudah sangat gampang dijumpai agen-agen travel, tapi saya lebih memilih Cipaganti. Menurut saya mobilnya lebih besar dan nyaman, meskipun sedikit mahal. Saat itu kira-kira Rp. 80.000,-. Perhatikan jadwal penerbangan anda. Pilih jadwal travel yang berangkat paling lambat 2 jam sebelum jadwal check in yang tertera pada tiket pesawat anda.
Langkah 3. Setelah sampai di Juanda, anda akan berhenti di gedung “Keberangkatan Domestik”. Menujulah ke papan pengumuman elektronik. Lihat nama pesawat anda beserta statusnya. Jika telah tiba waktu check in, segeralah masuk ke gedung dengan menyiapkan tiket beserta tanda pengenal anda. Setelah memasuki gedung, anda akan melewati pintu pemeriksaan. Masukkan tas beserta barang-barang anda yang lain ke dalam X-Ray Scanner dan berjalanlah melewati pintu detector. Setelah itu, ambil barang-barang anda kembali. Sekedar saran, sebaiknya masukkan dompet dan handphone anda ke dalam tas.
Langkah 4. Cari meja check in dengan layar yang menampilkan kota destinasi, nama pesawat, beserta nomor penerbangan anda. Langsunglah menuju meja tersebut dan jangan mampir ke meja-meja lain di sekitarnya. Biasanya di sekitar anda akan ada meja-meja dan petugas-petugas yang menawarkan penyegelan tas dengan membayar tariff tertentu. Saran saya, tinggalkan saja dan jangan mau jika ditawari. Cukup menuju meja check in saja. Di meja ini, anda akan melakukan registrasi dengan membayar uang sebesar Rp. 40.000,-. Jika barang bawaan anda sedikit, anda diijinkan untuk membawanya masuk pesawat. Jika banyak, anda harus memasukkannya ke dalam bagasi. Satu hal lagi yang perlu anda tahu. Jika barang anda yang akan dimasukkan bagasi memiliki berat lebih dari 20 kg, maka anda akan dikenakan biaya tambahan di luar biaya registrasi tadi.
Langkah 5. Ok. Kita anggap check in selesai. Sekarang menolehlah ke kanan. Di sana ada tangga menuju lantai 2. Naiklah melewati tangga tersebut menuju ruangan dengan nomor yang tertera pada tiket baru yang anda peroleh dari meja check in. Sekarang anda menuju ruang tunggu. Sebelum memasuki ruang ini, anda akan menjalani pemeriksaan seperti yang telah anda alami di pinti masuk gedung tadi. Setelah itu, duduklah di ruangan tersebut dan tunggu giliran penerbangan anda. Petugas akan memanggil jika waktunya telah tiba. Satu lagi. Sempatkanlah ke kamar kecil jika anda akan masuk ke ruang tunggu, karena akan repot jika anda harus keluar ruangan dan melakukan pemeriksaan kembali.
Yap. Kira-kira itulah tips yang bisa saya berikan untuk membantu perjalanan teman-teman. Semoga bermanfaat.
Thursday, 16 May 2013
"Face2pat"
Mungkin saya kurang pandai kalau soal bercerita. Jadi biarkanlah potret-potret berikut yang menggambarkan bagaimana kami mencoba berkreasi. Inilah kami, seniman-seniman tembok Face2pat. Check it out!
And this is the result. The marker of Face2pat teritorial. Gravitty sederhana ala seniman-seniman XI IPA 4, SMAN 1 Genteng, Banyuwangi.
Mungkin sekarang hanya rekaman ini saja yang tersisa. Tidak ada lagi dinding ini. Semua berubah putih. Menjelma menjadi tembok kelas yang (selalu saja) membosankan. Hanya satu yang saya yakini. Simbol boleh saja hilang, tapi kenangan tidak akan. Sampai jumpa kelas terhebat, salamku untuk kalian semua.
Dedicated for "Face2pat".
Friday, 10 May 2013
Masih Pilih Sahabat?
Sahabat. Orang bilang, ke mana-mana selalu bersama. Ada juga yang bilang, sahabat itu adalah teman yang saaangat dekat. Dia tahu banyak hal tentang kita. Mulai dari hal-hal kecil, seperti apa film favorit kita, apa makanan kesukaan kita, hingga hal-hal besar yang sangat sangat rahasia. Dia juga orang yang sangat baik. Orang yang mau menemani kita dalam suka maupun duka, bahkan dalam banyak cerita. Tapi dia tetap tahu batas, dimana seorang teman benar-benar sedang menginginkan privasinya, maka dia akan pergi.
Naif, tapi mungkin juga hanya pandangan saya. Entah kenapa, kebanyakan orang hanya beranggapan yang manis-manis saja tentang seorang sahabat. Kadang-kadang, atau mungkin seringkali, mereka terlalu berharap lebih dari seorang sahabat. Ya, terlalu menuntut banyak, bahkan kadang menjadi hilang kontrol dan beranggapan bahwa "sahabat itu ada untukku". Mereka lupa bahwa sahabat adalah seorang manusia. Makhluk yang punya emosi, punya kepentingan, dan pastinya keinginan. Makhluk yang juga berharap akan adanya orang yang mau mengerti dirinya.
Kadang sahabat bisa menjadi orang yang sangat jahat. Kita perlu tahu, bahwa sahabat yang sejati adalah orang yang tidak akan bermanis-manis bibir di depan kita. Dia tidak harus selalu bersikap seperti "dewa" kepada orang yang tidak tahu diri, yang mengaku sebagai sahabatnya. Jika dia tidak suka, maka dia akan bilang "Stop it!". Jika kamu berperilaku buruk, dia akan bilang "You bad!". Bahkan jika kamu terlalu buruk untuk dinasihati, dia tidak akan segan-segan menggunakan kata yang menyakitkan di hadapanmu.
Sahabat sejati tidak akan membungkus mata pisaunya dengan sebuah ciuman. Dia adalah orang yang tegar, orang yang sabar, dan orang yang tetap tersenyum, bahkan saat kau menggunakan lidah tajammu untuk menyayat hatinya. Satu lagi, dia adalah orang yang rela berkorban. Satu hal yang perlu diingat, bahwa saat seorang sahabat menegurmu, maka itu adalah keputusan yang sangat berat dan harus dia ambil. Kenapa? Ya, karena saat itu berarti dia telah berani mengambil resiko untuk kehilangan dirimu, demi sesuatu yang belum pasti, melihatmu berubah menjadi lebih baik nanti.
Naif, tapi mungkin juga hanya pandangan saya. Entah kenapa, kebanyakan orang hanya beranggapan yang manis-manis saja tentang seorang sahabat. Kadang-kadang, atau mungkin seringkali, mereka terlalu berharap lebih dari seorang sahabat. Ya, terlalu menuntut banyak, bahkan kadang menjadi hilang kontrol dan beranggapan bahwa "sahabat itu ada untukku". Mereka lupa bahwa sahabat adalah seorang manusia. Makhluk yang punya emosi, punya kepentingan, dan pastinya keinginan. Makhluk yang juga berharap akan adanya orang yang mau mengerti dirinya.
Kadang sahabat bisa menjadi orang yang sangat jahat. Kita perlu tahu, bahwa sahabat yang sejati adalah orang yang tidak akan bermanis-manis bibir di depan kita. Dia tidak harus selalu bersikap seperti "dewa" kepada orang yang tidak tahu diri, yang mengaku sebagai sahabatnya. Jika dia tidak suka, maka dia akan bilang "Stop it!". Jika kamu berperilaku buruk, dia akan bilang "You bad!". Bahkan jika kamu terlalu buruk untuk dinasihati, dia tidak akan segan-segan menggunakan kata yang menyakitkan di hadapanmu.
Sahabat sejati tidak akan membungkus mata pisaunya dengan sebuah ciuman. Dia adalah orang yang tegar, orang yang sabar, dan orang yang tetap tersenyum, bahkan saat kau menggunakan lidah tajammu untuk menyayat hatinya. Satu lagi, dia adalah orang yang rela berkorban. Satu hal yang perlu diingat, bahwa saat seorang sahabat menegurmu, maka itu adalah keputusan yang sangat berat dan harus dia ambil. Kenapa? Ya, karena saat itu berarti dia telah berani mengambil resiko untuk kehilangan dirimu, demi sesuatu yang belum pasti, melihatmu berubah menjadi lebih baik nanti.
Monday, 6 May 2013
Kupu-Kupu!
Saya penasaran, sebenarnya untuk apa sih yang namanya minggu tenang itu?
Untuk menenangkan pikiran setelah kuliah panjang? Sepertinya tidak.
Untuk menyiapkan materi-materi yang akan diUASkan? Juga tidak.
Atau mungkin untuk istirahat semata? Emm.... tidak juga.
Lalu untuk apa?
Kalau menurut saya sih, sepertinya minggu tenang itu adalah hari untuk ujiannya orang-orang CENGENG. Saya sendiri berpendapat demikian bukannya tanpa alasan. Bayangkan saja. Setiap semesternya, di jurusan saya selalu saja ada mahasiswa anak mama yang berusaha merusak jadwal ujian. Ujian dimajukan hari ini lah, hari itu lah. Alasannya simpel, yaitu ingin cepat-cepat pulang dan merasakan liburan. Hhhh... menyebalkan. Itu setahu saya.
Sebelumnya saya minta maaf kalau ada yang tersinggung. Untuk kalian teman-teman yang memilih ujian di minggu tenang demi mendapat liburan lebih awal, yang kebanyakan mengeluh gara-gara harus menunda kepulangan selama satu minggu, dan yang hobinya melobi dosen supaya UAS dimajukan di minggu tenang, coba perhatikan. Apa kalian tidak merasa bersalah kepada teman-teman kalian? Coba pikirkan nasib mereka yang ingin serius, yang membutuhkan minggu tenang untuk benar-benar belajar. Kalian tidak seharusnya mengorbankan kepentingan mereka seperti ini. Itu egois namanya. Kalian ingin pulang, merekapun demikian. Kalian lelah ke kampus setiap hari, merekapun juga demikian. Kalian rindu orang tua, lalu apa kalian pikir teman kita yang berasal dari Indonesia timur tidak? Dasar kalian, kupu-cupu!
Untuk menenangkan pikiran setelah kuliah panjang? Sepertinya tidak.
Untuk menyiapkan materi-materi yang akan diUASkan? Juga tidak.
Atau mungkin untuk istirahat semata? Emm.... tidak juga.
Lalu untuk apa?
Kalau menurut saya sih, sepertinya minggu tenang itu adalah hari untuk ujiannya orang-orang CENGENG. Saya sendiri berpendapat demikian bukannya tanpa alasan. Bayangkan saja. Setiap semesternya, di jurusan saya selalu saja ada mahasiswa anak mama yang berusaha merusak jadwal ujian. Ujian dimajukan hari ini lah, hari itu lah. Alasannya simpel, yaitu ingin cepat-cepat pulang dan merasakan liburan. Hhhh... menyebalkan. Itu setahu saya.
Sebelumnya saya minta maaf kalau ada yang tersinggung. Untuk kalian teman-teman yang memilih ujian di minggu tenang demi mendapat liburan lebih awal, yang kebanyakan mengeluh gara-gara harus menunda kepulangan selama satu minggu, dan yang hobinya melobi dosen supaya UAS dimajukan di minggu tenang, coba perhatikan. Apa kalian tidak merasa bersalah kepada teman-teman kalian? Coba pikirkan nasib mereka yang ingin serius, yang membutuhkan minggu tenang untuk benar-benar belajar. Kalian tidak seharusnya mengorbankan kepentingan mereka seperti ini. Itu egois namanya. Kalian ingin pulang, merekapun demikian. Kalian lelah ke kampus setiap hari, merekapun juga demikian. Kalian rindu orang tua, lalu apa kalian pikir teman kita yang berasal dari Indonesia timur tidak? Dasar kalian, kupu-cupu!
Tuesday, 5 March 2013
Hal yang Menyebalkan
Banyak hal menyebalkan bisa muncul dalam hidup ini. Bisa dari hal kecil, hingga masalah yang sangat besar. Misalnya, mulai dari kehabisan uang, kelaparan saat di kelas, tetangga berisik waktu jam tidur, sampai yang paling parah yaitu kehabisan sabun ketika sedang mandi. Dan mungkin, ada yang lebih parah yang pernah anda alami.
Entah kenapa, saya jadi penasaran. Dari sekian banyak hal, apa sih hal yang menurut saya paling menyebalkan yang pernah saya alami? Lalu bagaimana dengan teman-teman saya?
Dari situ saya mulai bertanya-tanya. Tidak penting sih, tapi ada lah hasilnya.
Ini nih hasil survey saya ....
Pertanyaan: Apa hal yang paling menyebalkan yang pernah kalian alami?
Jawaban:
Menurut Si A: "Pacaran jarak jauh itu paling menyebalkan. Soalnya kenapa ya, yang namanya pacaran itu kan butuh komunikasi. Kalau komunikasi saja tidak bisa, terus mau seperti apa lagi kita bisa berhubungan." -- Bla, bla, blaa. Yang ini jelas jawaban cewek.
Menurut Si B: "Menunggu seseorang yang tidak pasti datang itu paling menyebalkan. Istilahnya ya seperti diPHP lah." -- Jawaban umum.
Menurut Si C: "Nembak yang saya sukai, tapi digantung sampai mati. Padahal saya itu sudah terlanjur terang-terangan, tapi si dia tetep juga gak bisa sadar. Masih polos mungkin. Masih mending kalau digantung tapi diterima. Lha ini, sudah digantung, ditolak pula akhirnya" -- Hmm... Sabar Mas, jangan putus asa dulu. Bisa saja cewek itu memang lagi mujur gak dapat Mas. Hehee...
Menurut Si D: "Eke paling sebel kalo disuruh nunggu antrian berjam-jam di salon. Padahal kan eke cuma pengen wax bo', kan juga gak lama-lama amat. Palingan cuma sejam" -- Jenis kelamin masih kontroversi.
Menurut Si E: "Diselingkuhi pacar saya sampai hamil. Saat saya ketemu cowoknya itu, langsung saya hajar dia sampai K.O. Biarin, biar dia ngerasain akibatnya kalo mainin cewek" -- Ow meeennn!! Sip bos, saya ada di pihak Anda.
Menurut Si F: "Saat itu saya beli makanan banyak, e ternyata basi. Saya sebeeeel banget! Padahal saya saat itu sudah janji pada teman-teman kost untuk nraktir mereka makan. Kebayang gak sih betapa illfeelnya pas makanan itu mereka buka" -- Sabar ya Mbak, cup cup cupp. Sini nangis di pelukan Mas.Wakwakwak
Nah, itulah beberapa hal menyebalkan yang berhasil saya catat. Lalu bagaimana menurut anda?
Apa anda punya pengalaman seperti di atas?
Remember deh, just for fun.
Entah kenapa, saya jadi penasaran. Dari sekian banyak hal, apa sih hal yang menurut saya paling menyebalkan yang pernah saya alami? Lalu bagaimana dengan teman-teman saya?
Dari situ saya mulai bertanya-tanya. Tidak penting sih, tapi ada lah hasilnya.
Ini nih hasil survey saya ....
Pertanyaan: Apa hal yang paling menyebalkan yang pernah kalian alami?
Jawaban:
Menurut Si A: "Pacaran jarak jauh itu paling menyebalkan. Soalnya kenapa ya, yang namanya pacaran itu kan butuh komunikasi. Kalau komunikasi saja tidak bisa, terus mau seperti apa lagi kita bisa berhubungan." -- Bla, bla, blaa. Yang ini jelas jawaban cewek.
Menurut Si B: "Menunggu seseorang yang tidak pasti datang itu paling menyebalkan. Istilahnya ya seperti diPHP lah." -- Jawaban umum.
Menurut Si C: "Nembak yang saya sukai, tapi digantung sampai mati. Padahal saya itu sudah terlanjur terang-terangan, tapi si dia tetep juga gak bisa sadar. Masih polos mungkin. Masih mending kalau digantung tapi diterima. Lha ini, sudah digantung, ditolak pula akhirnya" -- Hmm... Sabar Mas, jangan putus asa dulu. Bisa saja cewek itu memang lagi mujur gak dapat Mas. Hehee...
Menurut Si D: "Eke paling sebel kalo disuruh nunggu antrian berjam-jam di salon. Padahal kan eke cuma pengen wax bo', kan juga gak lama-lama amat. Palingan cuma sejam" -- Jenis kelamin masih kontroversi.
Menurut Si E: "Diselingkuhi pacar saya sampai hamil. Saat saya ketemu cowoknya itu, langsung saya hajar dia sampai K.O. Biarin, biar dia ngerasain akibatnya kalo mainin cewek" -- Ow meeennn!! Sip bos, saya ada di pihak Anda.
Menurut Si F: "Saat itu saya beli makanan banyak, e ternyata basi. Saya sebeeeel banget! Padahal saya saat itu sudah janji pada teman-teman kost untuk nraktir mereka makan. Kebayang gak sih betapa illfeelnya pas makanan itu mereka buka" -- Sabar ya Mbak, cup cup cupp. Sini nangis di pelukan Mas.Wakwakwak
Nah, itulah beberapa hal menyebalkan yang berhasil saya catat. Lalu bagaimana menurut anda?
Apa anda punya pengalaman seperti di atas?
Remember deh, just for fun.
Friday, 1 March 2013
Yakin Anda Sibuk?
Sebenarnya, sibuk itu relatif.
Asal anda tahu saja, setiap orang di dunia pasti tetap akan bilang "sibuk" sebanyak apapun kegiatannya telah dikurangi.
Contohnya, Si A awalnya adalah pengurus OSIS dan aktif di kegiatan ekskul. Suatu saat, temannya mengajaknya pergi belajar kelompok. Nah, kebetulan saat itu misalnya dia sedang diberi tanggung jawab di sebuah acara sekolah. Bisa jadi Si A akan bilang "saya sedang sibuk".
Semester berikutnya, Si A bukan lagi pengurus OSIS dan tidak lagi ikut kegiatan ekskul seperti tahun sebelumnya. Lagi, temannya mengajaknya belajar kelompok. Lalu bagaimana kenyataannya? Ternyata Si A masih memiliki tanggungan tugas, laporan, dan essai. Kembali Si A akan bilang "saya sibuk".
Pertanyaannya, kenapa Si A masih sibuk? Di sinilah masalahnya.
Setelah tidak menjabat sebagai pengurus OSIS, ternyata Si A seringkali berkutat dengan kepentingannya sendiri yang sengaja "ditumpuk-tumpuk". Kenapa demikian? Ya, itu karena kenyataan bahwa banyaknya waktu yang dimiliki seseorang itu belum cukup menjamin bahwa dia akan menyelesaikan urusannya tepat waktu. Coba saja lihat Si A di semester sebelumnya. Selama dia menjabat sebagai pengurus OSIS, bukan berarti selama itu dia tidak mendapat tanggungan tugas, laporan, dan essai kan? Kenyataannya tetap saja dia dapat, hanya saja sudah terselesaikan sehingga alasan sibuk-nya yang tersisa hanya tinggal di organisasi. Dan sekarang, jadilah tugas, laporan, serta essai itu sebagai kambing hitamnya.
Itu tadi hanya sebagian kecil dari contoh di kehidupan nyata kita. Sebenarnya, orang sibuk itu bukan karena kegiatannya, melainkan karena pilihannya sendiri dalam memanage keseharian. Kadang, ada orang yang hidup teratur sehingga sesibuk apapun dia, akan tetap mampu berjalan stabil--mungkin karena terbiasa. Namun, ada juga yang berpikir, "waktu saya kan masih ada beberapa saat", sehingga pekerjaan ditunda dan kita bisa tebak, apa yang akan terjadi setelah pekerjaan berikutnya muncul.
Memang benar kata dosen saya,
Coba lihat. Orang yang rapat sampai jam sepuluh malam, akan langsung belajar matematika selama dua jam dan melajutkannya besok pagi jika keesokan harinya ada ulangan. Lalu, apakah anda yakin bahwa temannya yang menganggur di kost-an sejak siang hari akan mendapatkan lebih--dalam hal waktu dan kualitas belajar?
Belum tentu.
Everything's about the choice.
Asal anda tahu saja, setiap orang di dunia pasti tetap akan bilang "sibuk" sebanyak apapun kegiatannya telah dikurangi.
Contohnya, Si A awalnya adalah pengurus OSIS dan aktif di kegiatan ekskul. Suatu saat, temannya mengajaknya pergi belajar kelompok. Nah, kebetulan saat itu misalnya dia sedang diberi tanggung jawab di sebuah acara sekolah. Bisa jadi Si A akan bilang "saya sedang sibuk".
Semester berikutnya, Si A bukan lagi pengurus OSIS dan tidak lagi ikut kegiatan ekskul seperti tahun sebelumnya. Lagi, temannya mengajaknya belajar kelompok. Lalu bagaimana kenyataannya? Ternyata Si A masih memiliki tanggungan tugas, laporan, dan essai. Kembali Si A akan bilang "saya sibuk".
Pertanyaannya, kenapa Si A masih sibuk? Di sinilah masalahnya.
Setelah tidak menjabat sebagai pengurus OSIS, ternyata Si A seringkali berkutat dengan kepentingannya sendiri yang sengaja "ditumpuk-tumpuk". Kenapa demikian? Ya, itu karena kenyataan bahwa banyaknya waktu yang dimiliki seseorang itu belum cukup menjamin bahwa dia akan menyelesaikan urusannya tepat waktu. Coba saja lihat Si A di semester sebelumnya. Selama dia menjabat sebagai pengurus OSIS, bukan berarti selama itu dia tidak mendapat tanggungan tugas, laporan, dan essai kan? Kenyataannya tetap saja dia dapat, hanya saja sudah terselesaikan sehingga alasan sibuk-nya yang tersisa hanya tinggal di organisasi. Dan sekarang, jadilah tugas, laporan, serta essai itu sebagai kambing hitamnya.
Itu tadi hanya sebagian kecil dari contoh di kehidupan nyata kita. Sebenarnya, orang sibuk itu bukan karena kegiatannya, melainkan karena pilihannya sendiri dalam memanage keseharian. Kadang, ada orang yang hidup teratur sehingga sesibuk apapun dia, akan tetap mampu berjalan stabil--mungkin karena terbiasa. Namun, ada juga yang berpikir, "waktu saya kan masih ada beberapa saat", sehingga pekerjaan ditunda dan kita bisa tebak, apa yang akan terjadi setelah pekerjaan berikutnya muncul.
Memang benar kata dosen saya,
"Efisiensi manusia tidak berkembang atau bahkan semakin kecil jika dia diberi kesempatan yang bagus, tapi justru akan semakin besar jika tidak diberi kesempatan."
Coba lihat. Orang yang rapat sampai jam sepuluh malam, akan langsung belajar matematika selama dua jam dan melajutkannya besok pagi jika keesokan harinya ada ulangan. Lalu, apakah anda yakin bahwa temannya yang menganggur di kost-an sejak siang hari akan mendapatkan lebih--dalam hal waktu dan kualitas belajar?
Belum tentu.
Everything's about the choice.
Tuesday, 26 February 2013
Koen Sent Terasi
Suatu hari saya pergi ke rumah seorang teman di daerah Sulfat, Malang. Seperti biasa saya masuk, duduk, dan saling bercerita. Lama... lama... dan lama... Semua terdengar biasa saja sampai dia menceritakan kecelakaannya dua hari yang lalu. Dia bilang, saat itu dia telah dengan sukses menabrak sebuah gerobak bakpau yang sedang berjualan.
"Praaakk....!", hancurlah si gerobak. Tambahnya lagi, tabrakan itu sampai-sampai membuat roda gerobak bengkok, bakpau berceceran, etalase pecah, dan tukang bakpau berguling-guling ria di tepi jalan. Sial lagi bagi dia, tabrakan terjadi jam tujuh pagi saat dia berangkat sekolah. So, bakpau yang dijual juga masih penuh, alias full stock.
Singkat cerita, menggantilah dia dengan uang sekitar satu juta lebih. Memang, untuk orang kaya seperti dia hal itu bukan masalah yang besar, tapi malunya itu yang masalah. Bayangkan ketika nanti seseorang bertanya "lho, kamu kenapa?", jawabannya "habis nabrak tukang bakpau". Tentu saja itu bukanlah hal yang keren. Tambah lagi dia langsung dibawa orang tuanya pijat di daerah Tumpang--masih daerah Malang--, lalu antri di kerumunan orang-orang tua yang juga ingin pijat.
"Ya Tuhan.... Dosa apa teman hamba ini."
Saya bertanya kepadanya, sebut saja Bunga (cowok).
"lho, kok kamu bisa nabrak, Bung?"
"Tau nih, tiba-tiba jadi seperti itu, sepertinya saya lagi kurang fokus."
Begitu katanya.
Nah, itu baru yang pertama.
Dua hari berikutnya, giliran saya yang mengalami kejadian konyol. Saat perjalanan ke rumahnya (lagi), entah sedang melamun atau apa, secara tidak sengaja saya telah menabrak sebuah motor merk Yama(tiitt) di dekat sebuah perempatan, dan dilanjutkan motor merk Hon(tiitt) beberapa kilometer kumudian. Sangat aneh, mengingat jarak yang saya tempuh saat perjalanan itu tidak lebih dari 30 menit.
Saya menceritakan kejadian yang baru saya alami kepada ibu Bunga. Beliau mendengarkan, lalu mulai menasihati kami berdua.
"Le... Kalian itu kalo di jalan itu mbok ya konsentrasi to." begitu katanya dengan logat jawa yang kental.
"Ibuk itu yakin kalo kalian itu nabrak bukan gara-gara ngantuk."
"Apa sih susahnya konsentrasi."
"Kalo kalian sedang melakukan sesuatu, ya pikirkan saja tentang apa yang kalian lakukan itu, di tempat itu, dan saat itu. Jangan memikirkan yang lain dulu."
Ya, memang orang tua temanku yang satu ini sedikit terlalu care untuk remaja seusia kami. Tapi, setelah dipikir-pikir, bagus juga kata-katanya tadi.
Tapi dari kejadian ini, ada satu hal yang bisa saya ambil hikmah.
Intinya, "jika saya sedang di sini, maka di sinilah pikiran dan tenaga saya harus dipusatkan."
Simpelnya, begitulah konsentrasi. Untuk yang belum tahu apa konsentrasi itu. Sini, saya beritahu.
Konsentrasi....
Kon = Koen = Kamu
Sent = Mengirim
Trasi = Terasi
Konsentrasi = ???
"Praaakk....!", hancurlah si gerobak. Tambahnya lagi, tabrakan itu sampai-sampai membuat roda gerobak bengkok, bakpau berceceran, etalase pecah, dan tukang bakpau berguling-guling ria di tepi jalan. Sial lagi bagi dia, tabrakan terjadi jam tujuh pagi saat dia berangkat sekolah. So, bakpau yang dijual juga masih penuh, alias full stock.
Singkat cerita, menggantilah dia dengan uang sekitar satu juta lebih. Memang, untuk orang kaya seperti dia hal itu bukan masalah yang besar, tapi malunya itu yang masalah. Bayangkan ketika nanti seseorang bertanya "lho, kamu kenapa?", jawabannya "habis nabrak tukang bakpau". Tentu saja itu bukanlah hal yang keren. Tambah lagi dia langsung dibawa orang tuanya pijat di daerah Tumpang--masih daerah Malang--, lalu antri di kerumunan orang-orang tua yang juga ingin pijat.
"Ya Tuhan.... Dosa apa teman hamba ini."
Saya bertanya kepadanya, sebut saja Bunga (cowok).
"lho, kok kamu bisa nabrak, Bung?"
"Tau nih, tiba-tiba jadi seperti itu, sepertinya saya lagi kurang fokus."
Begitu katanya.
Nah, itu baru yang pertama.
Dua hari berikutnya, giliran saya yang mengalami kejadian konyol. Saat perjalanan ke rumahnya (lagi), entah sedang melamun atau apa, secara tidak sengaja saya telah menabrak sebuah motor merk Yama(tiitt) di dekat sebuah perempatan, dan dilanjutkan motor merk Hon(tiitt) beberapa kilometer kumudian. Sangat aneh, mengingat jarak yang saya tempuh saat perjalanan itu tidak lebih dari 30 menit.
Saya menceritakan kejadian yang baru saya alami kepada ibu Bunga. Beliau mendengarkan, lalu mulai menasihati kami berdua.
"Le... Kalian itu kalo di jalan itu mbok ya konsentrasi to." begitu katanya dengan logat jawa yang kental.
"Ibuk itu yakin kalo kalian itu nabrak bukan gara-gara ngantuk."
"Apa sih susahnya konsentrasi."
"Kalo kalian sedang melakukan sesuatu, ya pikirkan saja tentang apa yang kalian lakukan itu, di tempat itu, dan saat itu. Jangan memikirkan yang lain dulu."
Ya, memang orang tua temanku yang satu ini sedikit terlalu care untuk remaja seusia kami. Tapi, setelah dipikir-pikir, bagus juga kata-katanya tadi.
Tapi dari kejadian ini, ada satu hal yang bisa saya ambil hikmah.
Intinya, "jika saya sedang di sini, maka di sinilah pikiran dan tenaga saya harus dipusatkan."
Simpelnya, begitulah konsentrasi. Untuk yang belum tahu apa konsentrasi itu. Sini, saya beritahu.
Konsentrasi....
Kon = Koen = Kamu
Sent = Mengirim
Trasi = Terasi
Konsentrasi = ???
Subscribe to:
Posts (Atom)









