Pages

Wednesday, 29 October 2014

TS >= Tim Soal

Tim Soal Olimpiade Fisika Universitas Negeri Malang. Bukan organisasi, melainkan hanya sebuah perkumpulan yang luar biasa. Di dalamnya terdapat 25 anak-anak fisika yang terseleksi dari beberapa peserta dalam tiga generasi berbeda. Tugas Tim Soal (TS) pada dasarnya hanya satu, yaitu mempersiapkan soal-soal yang akan digunakan dalam penyelenggaraan olimpiade fisika UM. Bersama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Fisika, TS juga berkecimpung dalam penyusunan sebagian acara untuk beberapa babak olimpiade.

TS memang bukan organisasi, bukan juga subdivisi, ataupun sejenis UKM dan sebagainya. Bahkan tanpa itu semua atau AD/ART-pun TS sudah menjadi perkumpulan yang disegani di jurusan fisika. Bermarkas di gedung fisika 316, kelompok yang dikepalai oleh Pak Ketum, Bakhrul Rizky Kurniawan, juga melakukan beberapa aktivitas di luar urusan olimp, hanya sekedar untuk bersenang-senang dan mengusir kebosanan.

Setiap tahunnya TS akan mengadakan recruitment untuk menambah anggota baru. Jumlahnya tidak banyak. Berapa banyak anggota yang telah pensiun, maka sebanyak itu pula lah anggota yang akan direkrut. Dan hal itu berarti sebanyak itu pula lah anggota keluarga baru yang masuk dalam perkumpulan TS.

TS Tidak hanya tentang Tim, tidak pula hanya tentang Soal. Jika menurut pendapat saya pribadi, inilah dua keluarga terhebat yang pernah saya diami di Fakultas MIPA (lainnya: Komipa dan HMJ Fisika). Para anggota yang rela memeras keringat dan otak tanpa terkekang tanggung jawab, memberikan semua yang mampu diberikan tanpa imbalan materi dan legalitas, melakukan seluruh pekerjaan tanpa saling mempekerjakan. Cuma satu, demi Kesuksesan NuPhO (Nucleon Physics Olimpiad) Nasional 2014.

Saat ini, 29 Oktober 2014. Lewat 8 hari setelah terselenggarakannya Final NuPhO 2014. Panitia telah dibubarkan. Tugas pun telah terselesaikan. Tapi tidak berarti bahwa TS 2014 telah berakhir karena aggota baru yang lebih hebat menunggu untuk direkrut.

Tuesday, 8 July 2014

Setan di Bulan Puasa

Di bulan Ramadhan, setan-setan diikat. Mungkin kita bisa juga menyebutnya “dikerangkeng”. Itulah yang agama kami pahami. Saya meyakini hal itu, tanpa meragukannya sedikitpun karena hal itulah kebenaran, dan kebenaran itulah yang diajarkan pada kami.

Saat Ramadhan tiba, seperti biasa kami melaksanakan ibadah puasa. Suatu kegiatan untuk menahan lapar dan haus, serta hal-hal lain yang membatalkannya, mulai dari subuh hingga maghrib. Tak jarang ada juga yang tidak sampai maghrib. Apa itu termasuk puasa? Ya, terserah. Hanya anda dan Tuhan yang tahu. Wallahualam.

Sedikit pikiran iseng dan (mungkin) tidak penting melintas di benak saya setelah melihat orang-orang yang tak mampu menahan nafsunya. Seorang muslim yang tidak puasa di bulan Ramadhan. Atau mungkin seorang muslim yang berniat puasa, hingga suatu hidangan nikmat tampil melintas di depan matanya. Mereka ingkar, mengabaikan kewajibannya, meskipun bisa jadi hal itu karena beberapa pertimbangan mendasar. Saya mulai bertanya. Apakah itu karena godaan setan? Bukankah agama kita mengatakan bahwa setan diikat dan Tuhan juga telah menutup seluruh pintu neraka? Lalu apa itu? Inilah keterbatasan saya sebagai seorang muslim yang “dangkal”.

Tuesday, 3 June 2014

Setan Ala Kalimantan

Postingan kali ini mungkin sedikit seram, sedikit berbau mistis. Di sini saya akan membicarakan sesosok makhluk gaib dari wilayah Indonesia Tengah, tepatnya dari wilayah Borneo, bagian selatan. Mereka biasa menyebutnya kuyang, K-U-Y-A-N-G.

Dengar-dengar, makhluk ini sebenarnya adalah manusia yang menguasai ilmu hitam tertentu. Dari cerita-cerita yang saya peroleh, saya mencoba untuk mengumpulkan informasi lebih mengenai kuyang dengan menanyai beberapa orang yang saya kenal. Berikut ini kesimpulan yang saya peroleh, baik dari pertanyaan-pertanyaan saya, tabloid, atau cerita dari mulut ke mulut.

Kuyang berbentuk seperti hantu tanpa kepala, namun dengan organ dalam yang menempel pada bagian bawah lehernya. Bagi yang pernah melihat film horor Suzana, pasti bisa membayangkan. Kira-kira seperti ini gambarnya.

Seperti saya katakan tadi, kuyang ini sebenarnya adalah seorang manusia. Karena itu, saat kuyang yang berbentuk kepala ini terbang, dia tentu akan meninggalkan tubuhnya dalam keadaan tanpa kepala dan organ. Tubuh ini biasanya akan disembunyikan dulu sebelum si pemilik menjadi kuyang. Kenapa? Nah, menurut mitosnya, jika sampai tubuh kuyang yang kosong diisi banda-banda yang padat, maka kepala kuyang tidak akan dapat kembali. Selamanya dia akan menjadi kuyang yang kehilangan arah dan mudah "digrebeg". Karena itulah si pemilik selalu menyembunyikannya di tempat yang tak terduga. Kadang di balik pintu, di dalam almari, di kamar mandi, atau bahkan di bawah tempat tidur.

Menurut kepercayaan masyarakat Kalimantan, kuyang sebenarnya terjelma dari sesosok wanita yang cantik. Saat siang, wanita ini berjalan-jalan mencari mangsa di daerah yang dia kenal. Sebenarnya ada ciri-ciri yang dapat membedakan seorang wanita kuyang dengan wanita lainnya, yaitu pada bagian leher. Wanita kuyang memiliki garis biru kehitaman yang melingkar di sekeliling lehernya. Namun, ciri ini biasanya ditutupi dengan mengalungkan rambut panjang ke leher atau dengan mengenakan kerudung dengan rapat. Sepanjang siang, wanita ini mencari ibu-ibu yang akan melahirkan. Saat malam tiba, dia akan berubah menjadi kuyang, yang seringkali juga berubah ke dalam bentuk kucing atau burung besar. Dia akan datang ke ibu hamil itu, mengambil bayinya, dan mengisap darahnya, kadang bayi yang baru lahir, atau bahkan yang masih dalam kandunganpun dapat lenyap seketika. Menurut orang-orang, kuyang ini dapat ditangkal dengan menaruh sapu lidi dan nanas di depan pintu, atau dengan memukulkan alat-alat dapur saat malam hari.

Itu yang saya tahu tentang kuyang. Saya tidak meminta anda untuk percaya. Ini semua terserah anda. Yang jelas, saya hanya meminta anda yakin, bahwa di balik dunia yang kita diami saat ini, ada dunia lain yang tak terjamah oleh sebagian besar dari kita. Terlepas dari apa itu yang namanya hantu dan sebagainya.

Wednesday, 21 May 2014

A Lucky Never Comes to Donkey

Keberuntungan. Kata yang penuh keajaiban. Kata inilah yang telah menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi kita yang memiliki sedikit potensi. Dengan kepercayaan penuh pada keberuntungan, orang-orang terus menaruh harapan pada hadirnya suatu keajaiban. Keajaiban yang diturunkan Tuhan pada seseorang untuk melakukan hal besar, atau mungkin untuk mengalahkan mereka-mereka yang berpotensi, dan (yang jelas) memiliki peluang lebih baik dalam persaingan.

Anak 10 tahun mengalahkan sang ayah saat pertama kali belajar catur, Pedrosa yang mengambil alih posisi satu saat Rossi yang ada di depannya terjatuh, hingga Newton yang menemukan persamaan gravitasi saat sebuah apel jatuh tepat di kepalanya. Sungguh, sebesar itukah efek dari sebuah keberuntungan?

Kita mungkin terbiasa kagum jika hal itu terjadi pada diri kita sendiri, tapi entah mengapa cenderung meremehkan jika orang lain yang mengalaminya.
“Halah, kebetulan saja itu”, seperti itu biasanya kalimat yang terucap.
Hingga suatu kata bijak mengatakan.
“Satu kali itu keberuntungan, dua kali itu ketidaksengajaan, dan tiga kali itu baru potensi.”

Sebagian besar orang menganggap keberuntungan datang dari luar. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemampuan orang yang bersangkutan. Anggap saja hadiah dari Tuhan. Memang benar, tapi pernahkah kita berpikir mengapa Tuhan memberikan “hadiah”? Tentu ada sebabnya.
“Orang menyebut kami beruntung. Memang benar. Tapi mereka harus tahu bahwa keberuntungan itu datang karena kami yang telah bekerja keras.” –Vincent Company

Ya, itulah keberuntungan. Keajaiban yang datang melalui niat dan kerja keras. Bukan datang secara acak kepada setiap orang yang hanya punya mimpi, baik di dalam maupun di luar tidurnya.