Tegas itu... cekatan dalam keputusan.
Bukan frontal dalam perkataan.
Tegas itu... berani mengambil sikap.
Bukan hanya berani menegur kesalahan.
Tegas itu... cepat dan tangkas dalam bertindak.
Bukan tentang menaikkan nada suara dalam memerintah.
Sifat tegas tidak selalu ditunjukkan dalam perkataan, melainkan ke pola pikir dan perbuatan. Orang cenderung menilai tingkat ketegasan seseorang dengan salah kaprah. Hanya melalui caranya bicara, melalui caranya menegur, atau bahkan melalui ekspresinya saja. Padahal, jika kita lihat ke belakang, banyak orang-orang hebat di sekitar kita yang menurut saya tegas, namun seringkali memperoleh kritikan sebagai seseorang yang terlalu “santai”.
Orang tegas itu berbeda dengan orang keras. Orang keras mengatur, orang tegas bijak dalam memutuskan. Orang keras bicara dengan keras pula, orang tegas memilih apakah dia akan berbicara dengan keras atau tidak. Orang keras mengendalikan dengan paksaan dan rasa takut, orang tegas mengendalikan dArti engan rasa sadar dan pengertian.
Saturday, 24 October 2015
Thursday, 22 October 2015
Tidak Hanya di Batu, di Banjarpun Juga....
Mungkin itu ungkapan yang sesuai untuk membandingkan dua kota tersebut. Kota Wisata Batu, kota dengan suasana dingin yang menusuk, dipenuhi kabut di pagi dan sore hari, hingga membuat mata sulit memandang. Sedangkan di Banjar? Mau Banjarmasin, ataupun Banjarbaru, keduanya merupakan kota dengan suasana panas yang membakar kulit, dengan kabut (asap) di setiap pagi, membuat mata perih, membuat paru-paru kembang-kempis, dan membuat beberapa aktivitas harus dilakukan dengan ninja-ninjaan (memakai masker/cadar).
Jadi apa yang membuatnya sama? Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah kabut. Lihat saja ini. Beginilah Banjarmasin di pagi hari, foto yang diambil pada bulan Oktober lalu.
Buram? Tidak nampak jelas? Memang beginilah yang akan kita katakan saat jarak pandang kita hanya tersisa 20 meter saja. Tapi Tuhan masih berbaik hati pada kami yang tinggal di kota saudara, yaitu Banjarbaru. Di sini kami masih diperkanankan melihat pemandangan mentari bulat berwarna jingga yang sangat “indah” pada pukul 7 pagi (WITA), mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedikit lebih tinggi (40 km/jam), dan mengenali sosok manusia yang berdiri sedikit lebih jauh jika dibandingkan dengan di Banjarmasin (20 meter). Lalu ketika siang? Ya... seperti inilah.
Entah kapan keadaan ini akan membaik. Semoga kita dan kawan-kawan kita yang berada di wilayah Indonesia bagian barat, yang terkena dampak berlipat-lipat lebih parah dari ini, tetap diberi kesehatan dan kesabaran dalam menghadapi bencana asap yang terjadi. Everyting happen for a reason, entah dari kita sendiri ataupun dampak dari kesemena-menaan perlakuan orang lain.
Jadi apa yang membuatnya sama? Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah kabut. Lihat saja ini. Beginilah Banjarmasin di pagi hari, foto yang diambil pada bulan Oktober lalu.
Entah kapan keadaan ini akan membaik. Semoga kita dan kawan-kawan kita yang berada di wilayah Indonesia bagian barat, yang terkena dampak berlipat-lipat lebih parah dari ini, tetap diberi kesehatan dan kesabaran dalam menghadapi bencana asap yang terjadi. Everyting happen for a reason, entah dari kita sendiri ataupun dampak dari kesemena-menaan perlakuan orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)




