Pages

Tuesday, 5 March 2013

Hal yang Menyebalkan

Banyak hal menyebalkan bisa muncul dalam hidup ini. Bisa dari hal kecil, hingga masalah yang sangat besar. Misalnya, mulai dari kehabisan uang, kelaparan saat di kelas, tetangga berisik waktu jam tidur, sampai yang paling parah yaitu kehabisan sabun ketika sedang mandi. Dan mungkin, ada yang lebih parah yang pernah anda alami.

Entah kenapa, saya jadi penasaran. Dari sekian banyak hal, apa sih hal yang menurut saya paling menyebalkan yang pernah saya alami? Lalu bagaimana dengan teman-teman saya?
Dari situ saya mulai bertanya-tanya. Tidak penting sih, tapi ada lah hasilnya.
Ini nih hasil survey saya ....

Pertanyaan: Apa hal yang paling menyebalkan yang pernah kalian alami?
Jawaban:

Menurut Si A: "Pacaran jarak jauh itu paling menyebalkan. Soalnya kenapa ya, yang namanya pacaran itu kan butuh komunikasi. Kalau komunikasi saja tidak bisa, terus mau seperti apa lagi kita bisa berhubungan." -- Bla, bla, blaa. Yang ini jelas jawaban cewek.

Menurut Si B: "Menunggu seseorang yang tidak pasti datang itu paling menyebalkan. Istilahnya ya seperti diPHP lah." -- Jawaban umum.

Menurut Si C: "Nembak yang saya sukai, tapi digantung sampai mati. Padahal saya itu sudah terlanjur terang-terangan, tapi si dia tetep juga gak bisa sadar. Masih polos mungkin. Masih mending kalau digantung tapi diterima. Lha ini, sudah digantung, ditolak pula akhirnya" -- Hmm... Sabar Mas, jangan putus asa dulu. Bisa saja cewek itu memang lagi mujur gak dapat Mas. Hehee...

Menurut Si D: "Eke paling sebel kalo disuruh nunggu antrian berjam-jam di salon. Padahal kan eke cuma pengen wax bo', kan juga gak lama-lama amat. Palingan cuma sejam" -- Jenis kelamin masih kontroversi.

Menurut Si E: "Diselingkuhi pacar saya sampai hamil. Saat saya ketemu cowoknya itu, langsung saya hajar dia sampai K.O. Biarin, biar dia ngerasain akibatnya kalo mainin cewek" -- Ow meeennn!! Sip bos, saya ada di pihak Anda.

Menurut Si F: "Saat itu saya beli makanan banyak, e ternyata basi. Saya sebeeeel banget! Padahal saya saat itu sudah janji pada teman-teman kost untuk nraktir mereka makan. Kebayang gak sih betapa illfeelnya pas makanan itu mereka buka" -- Sabar ya Mbak, cup cup cupp. Sini nangis di pelukan Mas.Wakwakwak

Nah, itulah beberapa hal menyebalkan yang berhasil saya catat. Lalu bagaimana menurut anda?
Apa anda punya pengalaman seperti di atas?
Remember deh, just for fun.

Friday, 1 March 2013

Yakin Anda Sibuk?

Sebenarnya, sibuk itu relatif.
Asal anda tahu saja, setiap orang di dunia pasti tetap akan bilang "sibuk" sebanyak apapun kegiatannya telah dikurangi.

Contohnya, Si A awalnya adalah pengurus OSIS dan aktif di kegiatan ekskul. Suatu saat, temannya mengajaknya pergi belajar kelompok. Nah, kebetulan saat itu misalnya dia sedang diberi tanggung jawab di sebuah acara sekolah. Bisa jadi Si A akan bilang "saya sedang sibuk".

Semester berikutnya, Si A bukan lagi pengurus OSIS dan tidak lagi ikut kegiatan ekskul seperti tahun sebelumnya. Lagi, temannya mengajaknya belajar kelompok. Lalu bagaimana kenyataannya? Ternyata Si A masih memiliki tanggungan tugas, laporan, dan essai. Kembali Si A akan bilang "saya sibuk".

Pertanyaannya, kenapa Si A masih sibuk? Di sinilah masalahnya.
Setelah tidak menjabat sebagai pengurus OSIS, ternyata Si A seringkali berkutat dengan kepentingannya sendiri yang sengaja "ditumpuk-tumpuk". Kenapa demikian? Ya, itu karena kenyataan bahwa banyaknya waktu yang dimiliki seseorang itu belum cukup menjamin bahwa dia akan menyelesaikan urusannya tepat waktu. Coba saja lihat Si A di semester sebelumnya. Selama dia menjabat sebagai pengurus OSIS, bukan berarti selama itu dia tidak mendapat tanggungan tugas, laporan, dan essai kan? Kenyataannya tetap saja dia dapat, hanya saja sudah terselesaikan sehingga alasan sibuk-nya yang tersisa hanya tinggal di organisasi. Dan sekarang, jadilah tugas, laporan, serta essai itu sebagai kambing hitamnya.

Itu tadi hanya sebagian kecil dari contoh di kehidupan nyata kita. Sebenarnya, orang sibuk itu bukan karena kegiatannya, melainkan karena pilihannya sendiri dalam memanage keseharian. Kadang, ada orang yang hidup teratur sehingga sesibuk apapun dia, akan tetap mampu berjalan stabil--mungkin karena terbiasa. Namun, ada juga yang berpikir, "waktu saya kan masih ada beberapa saat", sehingga pekerjaan ditunda dan kita bisa tebak, apa yang akan terjadi setelah pekerjaan berikutnya muncul.

Memang benar kata dosen saya,

"Efisiensi manusia tidak berkembang atau bahkan semakin kecil jika dia diberi kesempatan yang bagus, tapi justru akan semakin besar jika tidak  diberi kesempatan."

Coba lihat. Orang yang rapat sampai jam sepuluh malam, akan langsung belajar matematika selama dua jam dan melajutkannya besok pagi jika keesokan harinya ada ulangan. Lalu, apakah anda yakin bahwa temannya yang menganggur di kost-an sejak siang hari akan mendapatkan lebih--dalam hal waktu dan kualitas belajar?
Belum tentu.
Everything's about the choice.