Asal anda tahu saja, setiap orang di dunia pasti tetap akan bilang "sibuk" sebanyak apapun kegiatannya telah dikurangi.
Contohnya, Si A awalnya adalah pengurus OSIS dan aktif di kegiatan ekskul. Suatu saat, temannya mengajaknya pergi belajar kelompok. Nah, kebetulan saat itu misalnya dia sedang diberi tanggung jawab di sebuah acara sekolah. Bisa jadi Si A akan bilang "saya sedang sibuk".
Semester berikutnya, Si A bukan lagi pengurus OSIS dan tidak lagi ikut kegiatan ekskul seperti tahun sebelumnya. Lagi, temannya mengajaknya belajar kelompok. Lalu bagaimana kenyataannya? Ternyata Si A masih memiliki tanggungan tugas, laporan, dan essai. Kembali Si A akan bilang "saya sibuk".
Pertanyaannya, kenapa Si A masih sibuk? Di sinilah masalahnya.
Setelah tidak menjabat sebagai pengurus OSIS, ternyata Si A seringkali berkutat dengan kepentingannya sendiri yang sengaja "ditumpuk-tumpuk". Kenapa demikian? Ya, itu karena kenyataan bahwa banyaknya waktu yang dimiliki seseorang itu belum cukup menjamin bahwa dia akan menyelesaikan urusannya tepat waktu. Coba saja lihat Si A di semester sebelumnya. Selama dia menjabat sebagai pengurus OSIS, bukan berarti selama itu dia tidak mendapat tanggungan tugas, laporan, dan essai kan? Kenyataannya tetap saja dia dapat, hanya saja sudah terselesaikan sehingga alasan sibuk-nya yang tersisa hanya tinggal di organisasi. Dan sekarang, jadilah tugas, laporan, serta essai itu sebagai kambing hitamnya.
Itu tadi hanya sebagian kecil dari contoh di kehidupan nyata kita. Sebenarnya, orang sibuk itu bukan karena kegiatannya, melainkan karena pilihannya sendiri dalam memanage keseharian. Kadang, ada orang yang hidup teratur sehingga sesibuk apapun dia, akan tetap mampu berjalan stabil--mungkin karena terbiasa. Namun, ada juga yang berpikir, "waktu saya kan masih ada beberapa saat", sehingga pekerjaan ditunda dan kita bisa tebak, apa yang akan terjadi setelah pekerjaan berikutnya muncul.
Memang benar kata dosen saya,
"Efisiensi manusia tidak berkembang atau bahkan semakin kecil jika dia diberi kesempatan yang bagus, tapi justru akan semakin besar jika tidak diberi kesempatan."
Coba lihat. Orang yang rapat sampai jam sepuluh malam, akan langsung belajar matematika selama dua jam dan melajutkannya besok pagi jika keesokan harinya ada ulangan. Lalu, apakah anda yakin bahwa temannya yang menganggur di kost-an sejak siang hari akan mendapatkan lebih--dalam hal waktu dan kualitas belajar?
Belum tentu.
Everything's about the choice.
No comments:
Post a Comment