Pages

Sunday, 15 September 2013

Sambutan dari Bromo

Persiapan beres, perbekalan lengkap, dan kami siap untuk berangkat. Tinggal mental yang harus saya siapkan, karena malam ini bukan cuma teman-teman biasanya yang akan bergabung. Ya, seperti yang sudah direncanakan dua minggu sebelumnya, masing-masing dari kami berempat akan mengajak seorang cewek. Dan cewek tidak beruntung yang saya ajak saat itu adalah Si "Delapan Dua-dua Per Tujuh", teman saya. Sori sensor.

Minggu, 8 September 2013, tepat pukul 00.00 WIB. Kami berempat mulai bergerak. Setelah menjemput cewek masing-masing, sesuai rencana kami berkumpul di satu spot yang telah ditentukan, gerbang depan Politeknik Negeri Malang. Dengan tunggangan dua matic dan dua bebek yang notabennya (masih) tangguh, kami berangkat menuju pom bensin terjauh sebelum masuk ke Pasuruan. Dan tanpa membutuhkan waktu yang lama, sampailah kami di SPBU wilayah Kecamatan Lawang. Di sini, kami akan mengisi full bahan bakar motor kami untuk modal perjalanan naik-turun kawasan Bromo. Kawasan yang kemungkinan besar jarang sekali kita jumpai penjual bensin eceran. Tangki bahan bakar saya sudah kembali full dalam sekejap, dari keadaan sebelumnya yang memang sudah full. Maklum lah, saking semangatnya saya lupa kalau sudah mempersiapkan semua lebih awal, termasuk bahan bakar. Jadi saat itu saya hanya perlu mengisinya sebanyak dua ribu rupiah saja. Rekor baru pembelian bensin termurah, untuk diri saya sendiri.

Perjalanan kami lanjutkan ke arah Pasuruan. Setelah melewati gedung megah bertuliskan “Mayora” dan “Pocari Sweat”, rombongan kami terus bergerak lurus memasuki jalan raya sebelum akhirnya belok kanan di perempatan Polresta Pasuruan. Dari sini, saya benar-benar buta arah. Untungnya saja kami hanya perlu mengikuti barisan kecil motor di depan kami, yang (sepertinya) memiliki destinasi yang sama. Kawasan Tengger, setidaknya itulah yang saya ketahui setelah membaca plang bertuliskan “selamat datang” di depan saya. Jalanan terasa mulai menanjak, frekuensi belokan pun meningkat. Lumayan extreme memang, bahkan sempat memaksa kaki saya turun beberapa kali untuk menyeimbangkan laju motor agar tidak slip. Kami sadar, inilah tantangan pertama kami. Melewati tikungan-tikungan tajam sembari memacu motor di atas permukaan aspal yang semakin lama semakin curam.

Entah berapa jam yang telah kami habiskan untuk sampai di pos perijinan. Kami berkumpul dan beristirahat di dekat gapura, sementara Si “Terjatuh” masuk ke dalam pos untuk mengurus ijin masuk. Di tempat inilah, setiap pengunjung domestik dengan motor harus berhenti dan membayar retribusi sebesar Rp. 25.000,- untuk masuk ke wilayah Bromo. Yah, cukup mahal juga ternyata, tapi mau bagaimana lagi. Semoga saja retribusi ini benar-benar digunakan dengan semestinya.

Kami kembali mamacu motor untuk mengejar sun rise. Dari pos tadi, kami masih harus ke sebuah pendopo yang telah disediakan khusus untuk mamanjakan mata pengunjungnya. Entah tempat apa itu namanya. Kami berdelapan berjalan menyusuri tangga untuk mencari view yang pas, setelah sebelumnya memarkirkan motor-motor kami yang sudah ngos-ngosan. Masih pukul 03.00 WIB, dan udara terasa sangat-sangat dingin. Saking dinginnya, sampai-sampai jaket dan kupluk yang kami gunakan serasa tidak ada. Kami mencari tempat duduk untuk ngobrol dan memejamkan mata sejenak, lalu menyeduh segelas pop mie. Sedikit, tapi terasa nikmat sekali. Paling tidak lumayan lah untuk menemani kami menunggu sun rise yang masih lama muncul. Saat itu suasana terasa sangat akrab. Kami bercanda seperti anak TK, mengoceh seperti burung beo, dan kadang tak sengaja juga ketiduran seperti kebo.

Setelah menunggu lama, akhirnya sun rise yang ditunggu semua orang pun muncul. Diawali dengan munculnya garis-garis jingga yang tidak begitu jelas, perlahan matahari pagi mulai terangkat. Sial, hari itu kurang menguntungkan. Sun rise bulat yang ditunggu-tunggu ternyata tidak terjadi. Ada sedikit gumpalan awan tipis yang ternyata menutupi jalur terbitnya matahari. Tapi sepertinya itu sudah cukup. Semua orang tetap antusias mengabadikan momen itu dengan kamera digital dan gadget-gadget mereka yang canggih. Lalu bagaimana dengan kami? Saat semua sibuk memotret sun rise, delapan orang aneh ini justru sibuk mengabadikan wajahnya sendiri. Pose ini, pose itu, pindah ke sini, pindah ke situ, sampai semua lokasi di pendopo itu habis masuk ke kamera.

Puas di bagian atas, kami memacu motor kembali, menuruni tikungan-tikungan tajam menuju lautan pasir di lembah Bromo. Tidak begitu jauh. Kurang lebih lima belas menit, empat motor ngos-ngosan ini telah menapakkan jejak rodanya di atas pasir tandus lembah Bromo. Saya sedikit kaget ketika sampai bawah. Banyak yang berubah. Lautan pasir yang padat, nyaman, dan mudah dilewati seperti beberapa minggu yang lalu, kini berubah 180 derajat menjadi dataran yang gersang, berdebu, dan memberikan tantangan luar biasa pada motor-motor kami. Saya baru ingat kalau musim ini musim panas. Tidak ada setetes airpun yang membasahi permukaan pasir itu, apalagi memadatkannya. Awalnya kami ragu untuk melewati medan pasir yang membentang di depan kami. Bayangkan saja, sedikit setir dibelokkan, maka pasir-pasir di bawah roda akan langsung amblas dan menggoyangkan seluruh badan motor. Tapi sudah tidak ada jalan lain. Tidak mungkin kami kembali ke atas menaiki tanjakan aspal super miring yang barusan kami turuni. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, kamipun harus menempuh medan extreme ini, lautan pasir bromo yang sesungguhnya.

Kami berjibaku mati-matian agar motor kami tidak goyang. Sungguh, inilah medan terberat yang pernah saya lalui dengan motor. Dan lebih berat lagi, mengingat apa yang ada di belakang kami, atau tepatnya siapa. Beberapa kali di antara kami ada yang sempat oleng, bahkan nyaris nyungsep. Pada beberapa kesempatan, kami sempat memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur nafas yang ngos-ngosan, sembari mengabadikan satu atau dua foto. Kami ngobrol sejenak, membicarakan planing untuk perjalanan pulang termudah. Kamudian, dengan pertimbangan yang (sepertinya) matang, salah satu dari kami mengusulkan agar tidak kembali ke Malang melewati jalur Tumpang. Terlalu berat. Terlalu berbahaya pula untuk dilalui oleh orang yang staminanya sudah hancur seperti kami. Kami sepakat dengan usulan itu. Setelah dirasa cukup, semua naik kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan. Telah diputuskan, bahwa setelah melalui hadangan pasir yang luas ini, kita akan kembali ke Malang lewat jalur Probolinggo, yang di atas kertas jauh lebih panjang daripada jalur Tumpang.

Monday, 9 September 2013

Ada yang Lebih Keras

Mulai dari kehabisan uang, sampai boring berdiam di kamar. Harus bersih-bersih tempat tidur, atau bahkan bingung ingin melakukan apa saat sedang nganggur. Saya tidak tahu apakah kalian yang saat ini dekat dengan orang tua merasakannya.

Memang benar, ada banyak hal yang kadang kurang menyenangkan saat kita berada jauh dari rumah. Tapi apa kita pernah berpikir bagaimana keadaan orang-orang di rumah yang kita tinggalkan? Kita bangun pagi, lalu mengeluh hanya karena antre mandi di depan kamar mandi kost. Sementara adik dan kakak kita di rumah? Mereka bisa saja sedang menimba air, tarikan demi tarikan, dan mengumpulkannya di tong besar untuk makan dan minum mereka sampai esok hari.

Kita berangkat ke sekolah, mengeluh hanya karena jalan yang macet, panas, dan berdebu. Di sisi lain, ayah kita sedang berjalan jauh ke sawah, beratus-ratus meter, lalu mencangkul dan bercocok tanam dengan ikhlas dan keringat yang bercucuran. Semua demi mewujudkan keinginan dirinya dan istrinya agar kita bisa berangkat ke sekolah naik motor pribadi serta dengan wajah yang cerah.

Kita mencacah-cacah makanan kita di atas piring, mungkin karena lauk yang kurang pas. Tapi pernahkah kita berpikir, “Ayah, Ibu, sudahkah kalian makan malam ini?”. 

Lalu apa kita pantas, berpikir bahwa diri kita sedang berjuang keras menyelesaikan sekolah? Bukankah mereka, orang tua, dan mungkin adik serta kakak kita , yang saat ini sedang di rumah berusaha mati-matian untuk berhemat, agar kiriman uang selalu datang ke kita tepat waktu. Adik kita mulai belajar berhenti membeli ice cream. Kakak yang mulai belajar mencari uang sendiri. Ibu yang sudah keriput, yang sering gosong ketika memasak karena pengelihatannya yang sudah tak bagus. Dan ayah, orang yang tidak pernah sadar bahwa punggungnya sudah membusur kaku dimakan usia, hingga tak mampu berjalan tegak dan mengangkat cangkulnya.

Saya tidak berbicara kepada kalian yang saat ini kebetulan berkecukupan, tapi saya bicara kepada kalian yang merasa bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan. Entah apa pengorbanan keluarga pantas didapatkan oleh anak-anak macam kita. Mungkin sekaranglah saatnya kita berhenti berpikir bahwa "hidup ini keras". Kita layaknya sadar, bahwa ternyata masih ada hidup lain yang jauh lebih keras. Semuanya tepat di belakang kita.

Sunday, 1 September 2013

Untuk Apa Belajar?

Sekarang saya sudah bukan anak SD lagi. Saya mahasiswa, semester V pula. Tapi anehnya saya justru baru sadar tentang suatu hal yang sangat sepele. Bisa dibilang pertanyaan umum yang biasa ditanyakan guru taman kanak-kanak kepada anak didiknya.

"Untuk apa sih kalian itu belajar?"

Dulu saya biasa mendengar pertanyaan ini dari si "Pria Tenang", teman saya semasa SMA. Dia bilang ini pertanyaan dari Kyai-nya, dan dia bingung bagaimana mau menjawabnya. Saking bingungnya, sampai-sampai dia bertanya kepada beberapa guru di sekolah kami. Saya jadi heran.

Bukannya saya memandang rendah pertanyaan teman saya, tapi semua orang tahu kan kalau kita itu belajar supaya pintar? So, kenapa mesti bingung?

Setidaknya itulah jawaban yang saya punya. Tapi itu dulu, sampai saya mulai berpikir (menyimpang) seperti saat ini. Secara tidak sadar, pertanyaan itu muncul lagi di dalam kepala saya. Ya, di usia yang (seharusnya) produktif ini, saya malah merasa bingung mencari alasan kenapa kita harus belajar. Mungkin ini yang namanya galau dalam kamus saya. Seringkali saya bertanya, tapi tetap saja belum menemukan jawaban yang pas. Semuanya hanya jawaban-jawaban teoritis yang tertata sangat rapi, yang lebih cocok menjadi jawaban ujian di mata kuliah kependidikan saya.