Pages

Wednesday, 21 May 2014

A Lucky Never Comes to Donkey

Keberuntungan. Kata yang penuh keajaiban. Kata inilah yang telah menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi kita yang memiliki sedikit potensi. Dengan kepercayaan penuh pada keberuntungan, orang-orang terus menaruh harapan pada hadirnya suatu keajaiban. Keajaiban yang diturunkan Tuhan pada seseorang untuk melakukan hal besar, atau mungkin untuk mengalahkan mereka-mereka yang berpotensi, dan (yang jelas) memiliki peluang lebih baik dalam persaingan.

Anak 10 tahun mengalahkan sang ayah saat pertama kali belajar catur, Pedrosa yang mengambil alih posisi satu saat Rossi yang ada di depannya terjatuh, hingga Newton yang menemukan persamaan gravitasi saat sebuah apel jatuh tepat di kepalanya. Sungguh, sebesar itukah efek dari sebuah keberuntungan?

Kita mungkin terbiasa kagum jika hal itu terjadi pada diri kita sendiri, tapi entah mengapa cenderung meremehkan jika orang lain yang mengalaminya.
“Halah, kebetulan saja itu”, seperti itu biasanya kalimat yang terucap.
Hingga suatu kata bijak mengatakan.
“Satu kali itu keberuntungan, dua kali itu ketidaksengajaan, dan tiga kali itu baru potensi.”

Sebagian besar orang menganggap keberuntungan datang dari luar. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemampuan orang yang bersangkutan. Anggap saja hadiah dari Tuhan. Memang benar, tapi pernahkah kita berpikir mengapa Tuhan memberikan “hadiah”? Tentu ada sebabnya.
“Orang menyebut kami beruntung. Memang benar. Tapi mereka harus tahu bahwa keberuntungan itu datang karena kami yang telah bekerja keras.” –Vincent Company

Ya, itulah keberuntungan. Keajaiban yang datang melalui niat dan kerja keras. Bukan datang secara acak kepada setiap orang yang hanya punya mimpi, baik di dalam maupun di luar tidurnya.

No comments:

Post a Comment