Mungkin itu ungkapan yang sesuai untuk membandingkan dua kota tersebut. Kota Wisata Batu, kota dengan suasana dingin yang menusuk, dipenuhi kabut di pagi dan sore hari, hingga membuat mata sulit memandang. Sedangkan di Banjar? Mau Banjarmasin, ataupun Banjarbaru, keduanya merupakan kota dengan suasana panas yang membakar kulit, dengan kabut (asap) di setiap pagi, membuat mata perih, membuat paru-paru kembang-kempis, dan membuat beberapa aktivitas harus dilakukan dengan ninja-ninjaan (memakai masker/cadar).
Jadi apa yang membuatnya sama? Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah kabut. Lihat saja ini. Beginilah Banjarmasin di pagi hari, foto yang diambil pada bulan Oktober lalu.
Buram? Tidak nampak jelas? Memang beginilah yang akan kita katakan saat jarak pandang kita hanya tersisa 20 meter saja. Tapi Tuhan masih berbaik hati pada kami yang tinggal di kota saudara, yaitu Banjarbaru. Di sini kami masih diperkanankan melihat pemandangan mentari bulat berwarna jingga yang sangat “indah” pada pukul 7 pagi (WITA), mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedikit lebih tinggi (40 km/jam), dan mengenali sosok manusia yang berdiri sedikit lebih jauh jika dibandingkan dengan di Banjarmasin (20 meter). Lalu ketika siang? Ya... seperti inilah.
Entah kapan keadaan ini akan membaik. Semoga kita dan kawan-kawan kita yang berada di wilayah Indonesia bagian barat, yang terkena dampak berlipat-lipat lebih parah dari ini, tetap diberi kesehatan dan kesabaran dalam menghadapi bencana asap yang terjadi.
Everyting happen for a reason, entah dari kita sendiri ataupun dampak dari kesemena-menaan perlakuan orang lain.
No comments:
Post a Comment