Persiapan beres, perbekalan lengkap, dan kami siap untuk berangkat. Tinggal mental yang harus saya siapkan, karena malam ini bukan cuma teman-teman biasanya yang akan bergabung. Ya, seperti yang sudah direncanakan dua minggu sebelumnya, masing-masing dari kami berempat akan mengajak seorang cewek. Dan cewek tidak beruntung yang saya ajak saat itu adalah Si "Delapan Dua-dua Per Tujuh", teman saya. Sori sensor.
Minggu, 8 September 2013, tepat pukul 00.00 WIB. Kami berempat mulai bergerak. Setelah menjemput cewek masing-masing, sesuai rencana kami berkumpul di satu spot yang telah ditentukan, gerbang depan Politeknik Negeri Malang. Dengan tunggangan dua matic dan dua bebek yang notabennya (masih) tangguh, kami berangkat menuju pom bensin terjauh sebelum masuk ke Pasuruan. Dan tanpa membutuhkan waktu yang lama, sampailah kami di SPBU wilayah Kecamatan Lawang. Di sini, kami akan mengisi full bahan bakar motor kami untuk modal perjalanan naik-turun kawasan Bromo. Kawasan yang kemungkinan besar jarang sekali kita jumpai penjual bensin eceran. Tangki bahan bakar saya sudah kembali full dalam sekejap, dari keadaan sebelumnya yang memang sudah full. Maklum lah, saking semangatnya saya lupa kalau sudah mempersiapkan semua lebih awal, termasuk bahan bakar. Jadi saat itu saya hanya perlu mengisinya sebanyak dua ribu rupiah saja. Rekor baru pembelian bensin termurah, untuk diri saya sendiri.
Perjalanan kami lanjutkan ke arah Pasuruan. Setelah melewati gedung megah bertuliskan “Mayora” dan “Pocari Sweat”, rombongan kami terus bergerak lurus memasuki jalan raya sebelum akhirnya belok kanan di perempatan Polresta Pasuruan. Dari sini, saya benar-benar buta arah. Untungnya saja kami hanya perlu mengikuti barisan kecil motor di depan kami, yang (sepertinya) memiliki destinasi yang sama. Kawasan Tengger, setidaknya itulah yang saya ketahui setelah membaca plang bertuliskan “selamat datang” di depan saya. Jalanan terasa mulai menanjak, frekuensi belokan pun meningkat. Lumayan extreme memang, bahkan sempat memaksa kaki saya turun beberapa kali untuk menyeimbangkan laju motor agar tidak slip. Kami sadar, inilah tantangan pertama kami. Melewati tikungan-tikungan tajam sembari memacu motor di atas permukaan aspal yang semakin lama semakin curam.
Entah berapa jam yang telah kami habiskan untuk sampai di pos perijinan. Kami berkumpul dan beristirahat di dekat gapura, sementara Si “Terjatuh” masuk ke dalam pos untuk mengurus ijin masuk. Di tempat inilah, setiap pengunjung domestik dengan motor harus berhenti dan membayar retribusi sebesar Rp. 25.000,- untuk masuk ke wilayah Bromo. Yah, cukup mahal juga ternyata, tapi mau bagaimana lagi. Semoga saja retribusi ini benar-benar digunakan dengan semestinya.
Kami kembali mamacu motor untuk mengejar sun rise. Dari pos tadi, kami masih harus ke sebuah pendopo yang telah disediakan khusus untuk mamanjakan mata pengunjungnya. Entah tempat apa itu namanya. Kami berdelapan berjalan menyusuri tangga untuk mencari view yang pas, setelah sebelumnya memarkirkan motor-motor kami yang sudah ngos-ngosan. Masih pukul 03.00 WIB, dan udara terasa sangat-sangat dingin. Saking dinginnya, sampai-sampai jaket dan kupluk yang kami gunakan serasa tidak ada. Kami mencari tempat duduk untuk ngobrol dan memejamkan mata sejenak, lalu menyeduh segelas pop mie. Sedikit, tapi terasa nikmat sekali. Paling tidak lumayan lah untuk menemani kami menunggu sun rise yang masih lama muncul. Saat itu suasana terasa sangat akrab. Kami bercanda seperti anak TK, mengoceh seperti burung beo, dan kadang tak sengaja juga ketiduran seperti kebo.
Setelah menunggu lama, akhirnya sun rise yang ditunggu semua orang pun muncul. Diawali dengan munculnya garis-garis jingga yang tidak begitu jelas, perlahan matahari pagi mulai terangkat. Sial, hari itu kurang menguntungkan. Sun rise bulat yang ditunggu-tunggu ternyata tidak terjadi. Ada sedikit gumpalan awan tipis yang ternyata menutupi jalur terbitnya matahari. Tapi sepertinya itu sudah cukup. Semua orang tetap antusias mengabadikan momen itu dengan kamera digital dan gadget-gadget mereka yang canggih. Lalu bagaimana dengan kami? Saat semua sibuk memotret sun rise, delapan orang aneh ini justru sibuk mengabadikan wajahnya sendiri. Pose ini, pose itu, pindah ke sini, pindah ke situ, sampai semua lokasi di pendopo itu habis masuk ke kamera.
Puas di bagian atas, kami memacu motor kembali, menuruni tikungan-tikungan tajam menuju lautan pasir di lembah Bromo. Tidak begitu jauh. Kurang lebih lima belas menit, empat motor ngos-ngosan ini telah menapakkan jejak rodanya di atas pasir tandus lembah Bromo. Saya sedikit kaget ketika sampai bawah. Banyak yang berubah. Lautan pasir yang padat, nyaman, dan mudah dilewati seperti beberapa minggu yang lalu, kini berubah 180 derajat menjadi dataran yang gersang, berdebu, dan memberikan tantangan luar biasa pada motor-motor kami. Saya baru ingat kalau musim ini musim panas. Tidak ada setetes airpun yang membasahi permukaan pasir itu, apalagi memadatkannya. Awalnya kami ragu untuk melewati medan pasir yang membentang di depan kami. Bayangkan saja, sedikit setir dibelokkan, maka pasir-pasir di bawah roda akan langsung amblas dan menggoyangkan seluruh badan motor. Tapi sudah tidak ada jalan lain. Tidak mungkin kami kembali ke atas menaiki tanjakan aspal super miring yang barusan kami turuni. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, kamipun harus menempuh medan extreme ini, lautan pasir bromo yang sesungguhnya.
Kami berjibaku mati-matian agar motor kami tidak goyang. Sungguh, inilah medan terberat yang pernah saya lalui dengan motor. Dan lebih berat lagi, mengingat apa yang ada di belakang kami, atau tepatnya siapa. Beberapa kali di antara kami ada yang sempat oleng, bahkan nyaris nyungsep. Pada beberapa kesempatan, kami sempat memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur nafas yang ngos-ngosan, sembari mengabadikan satu atau dua foto. Kami ngobrol sejenak, membicarakan planing untuk perjalanan pulang termudah. Kamudian, dengan pertimbangan yang (sepertinya) matang, salah satu dari kami mengusulkan agar tidak kembali ke Malang melewati jalur Tumpang. Terlalu berat. Terlalu berbahaya pula untuk dilalui oleh orang yang staminanya sudah hancur seperti kami. Kami sepakat dengan usulan itu. Setelah dirasa cukup, semua naik kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan. Telah diputuskan, bahwa setelah melalui hadangan pasir yang luas ini, kita akan kembali ke Malang lewat jalur Probolinggo, yang di atas kertas jauh lebih panjang daripada jalur Tumpang.
No comments:
Post a Comment