"Untuk apa sih kalian itu belajar?"
Dulu saya biasa mendengar pertanyaan ini dari si "Pria Tenang", teman saya semasa SMA. Dia bilang ini pertanyaan dari Kyai-nya, dan dia bingung bagaimana mau menjawabnya. Saking bingungnya, sampai-sampai dia bertanya kepada beberapa guru di sekolah kami. Saya jadi heran.
Bukannya saya memandang rendah pertanyaan teman saya, tapi semua orang tahu kan kalau kita itu belajar supaya pintar? So, kenapa mesti bingung?
Setidaknya itulah jawaban yang saya punya. Tapi itu dulu, sampai saya mulai berpikir (menyimpang) seperti saat ini. Secara tidak sadar, pertanyaan itu muncul lagi di dalam kepala saya. Ya, di usia yang (seharusnya) produktif ini, saya malah merasa bingung mencari alasan kenapa kita harus belajar. Mungkin ini yang namanya galau dalam kamus saya. Seringkali saya bertanya, tapi tetap saja belum menemukan jawaban yang pas. Semuanya hanya jawaban-jawaban teoritis yang tertata sangat rapi, yang lebih cocok menjadi jawaban ujian di mata kuliah kependidikan saya.
Bukannya saya memandang rendah pertanyaan teman saya, tapi semua orang tahu kan kalau kita itu belajar supaya pintar? So, kenapa mesti bingung?
Setidaknya itulah jawaban yang saya punya. Tapi itu dulu, sampai saya mulai berpikir (menyimpang) seperti saat ini. Secara tidak sadar, pertanyaan itu muncul lagi di dalam kepala saya. Ya, di usia yang (seharusnya) produktif ini, saya malah merasa bingung mencari alasan kenapa kita harus belajar. Mungkin ini yang namanya galau dalam kamus saya. Seringkali saya bertanya, tapi tetap saja belum menemukan jawaban yang pas. Semuanya hanya jawaban-jawaban teoritis yang tertata sangat rapi, yang lebih cocok menjadi jawaban ujian di mata kuliah kependidikan saya.
No comments:
Post a Comment