Pages

Monday, 9 September 2013

Ada yang Lebih Keras

Mulai dari kehabisan uang, sampai boring berdiam di kamar. Harus bersih-bersih tempat tidur, atau bahkan bingung ingin melakukan apa saat sedang nganggur. Saya tidak tahu apakah kalian yang saat ini dekat dengan orang tua merasakannya.

Memang benar, ada banyak hal yang kadang kurang menyenangkan saat kita berada jauh dari rumah. Tapi apa kita pernah berpikir bagaimana keadaan orang-orang di rumah yang kita tinggalkan? Kita bangun pagi, lalu mengeluh hanya karena antre mandi di depan kamar mandi kost. Sementara adik dan kakak kita di rumah? Mereka bisa saja sedang menimba air, tarikan demi tarikan, dan mengumpulkannya di tong besar untuk makan dan minum mereka sampai esok hari.

Kita berangkat ke sekolah, mengeluh hanya karena jalan yang macet, panas, dan berdebu. Di sisi lain, ayah kita sedang berjalan jauh ke sawah, beratus-ratus meter, lalu mencangkul dan bercocok tanam dengan ikhlas dan keringat yang bercucuran. Semua demi mewujudkan keinginan dirinya dan istrinya agar kita bisa berangkat ke sekolah naik motor pribadi serta dengan wajah yang cerah.

Kita mencacah-cacah makanan kita di atas piring, mungkin karena lauk yang kurang pas. Tapi pernahkah kita berpikir, “Ayah, Ibu, sudahkah kalian makan malam ini?”. 

Lalu apa kita pantas, berpikir bahwa diri kita sedang berjuang keras menyelesaikan sekolah? Bukankah mereka, orang tua, dan mungkin adik serta kakak kita , yang saat ini sedang di rumah berusaha mati-matian untuk berhemat, agar kiriman uang selalu datang ke kita tepat waktu. Adik kita mulai belajar berhenti membeli ice cream. Kakak yang mulai belajar mencari uang sendiri. Ibu yang sudah keriput, yang sering gosong ketika memasak karena pengelihatannya yang sudah tak bagus. Dan ayah, orang yang tidak pernah sadar bahwa punggungnya sudah membusur kaku dimakan usia, hingga tak mampu berjalan tegak dan mengangkat cangkulnya.

Saya tidak berbicara kepada kalian yang saat ini kebetulan berkecukupan, tapi saya bicara kepada kalian yang merasa bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan. Entah apa pengorbanan keluarga pantas didapatkan oleh anak-anak macam kita. Mungkin sekaranglah saatnya kita berhenti berpikir bahwa "hidup ini keras". Kita layaknya sadar, bahwa ternyata masih ada hidup lain yang jauh lebih keras. Semuanya tepat di belakang kita.

No comments:

Post a Comment