Memang benar, ada banyak hal yang kadang kurang menyenangkan
saat kita berada jauh dari rumah. Tapi apa kita pernah berpikir bagaimana
keadaan orang-orang di rumah yang kita tinggalkan? Kita bangun pagi, lalu
mengeluh hanya karena antre mandi di depan kamar mandi kost. Sementara adik dan
kakak kita di rumah? Mereka bisa saja sedang menimba air, tarikan demi tarikan,
dan mengumpulkannya di tong besar untuk makan dan minum mereka sampai esok
hari.
Kita berangkat ke sekolah, mengeluh hanya karena jalan yang
macet, panas, dan berdebu. Di sisi lain, ayah kita sedang berjalan jauh ke
sawah, beratus-ratus meter, lalu mencangkul dan bercocok tanam dengan ikhlas
dan keringat yang bercucuran. Semua demi mewujudkan keinginan dirinya dan
istrinya agar kita bisa berangkat ke sekolah naik motor pribadi serta dengan
wajah yang cerah.
Kita mencacah-cacah makanan kita di atas piring, mungkin
karena lauk yang kurang pas. Tapi pernahkah kita berpikir, “Ayah, Ibu, sudahkah
kalian makan malam ini?”.
Lalu apa kita pantas, berpikir bahwa diri kita sedang
berjuang keras menyelesaikan sekolah? Bukankah mereka, orang tua, dan mungkin
adik serta kakak kita , yang saat ini sedang di rumah berusaha mati-matian
untuk berhemat, agar kiriman uang selalu datang ke kita tepat waktu. Adik kita
mulai belajar berhenti membeli ice cream. Kakak yang mulai belajar mencari uang
sendiri. Ibu yang sudah keriput, yang sering gosong ketika memasak karena
pengelihatannya yang sudah tak bagus. Dan ayah, orang yang tidak pernah sadar
bahwa punggungnya sudah membusur kaku dimakan usia, hingga tak mampu berjalan
tegak dan mengangkat cangkulnya.
Saya tidak berbicara kepada kalian yang saat ini kebetulan berkecukupan, tapi saya bicara kepada kalian yang merasa bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan. Entah apa pengorbanan keluarga pantas didapatkan oleh anak-anak macam kita. Mungkin sekaranglah saatnya kita berhenti berpikir bahwa "hidup ini keras". Kita layaknya sadar, bahwa ternyata masih ada hidup lain yang jauh lebih keras. Semuanya tepat di belakang kita.
Saya tidak berbicara kepada kalian yang saat ini kebetulan berkecukupan, tapi saya bicara kepada kalian yang merasa bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan. Entah apa pengorbanan keluarga pantas didapatkan oleh anak-anak macam kita. Mungkin sekaranglah saatnya kita berhenti berpikir bahwa "hidup ini keras". Kita layaknya sadar, bahwa ternyata masih ada hidup lain yang jauh lebih keras. Semuanya tepat di belakang kita.
No comments:
Post a Comment